Hal Mengagumkan Yang Dibuat Bangsa Aztek

Aztek adalah nama dari suku bangsa yang di masa lampau pernah mendiami wilayah Meksiko. Saat bangsa Eropa pertama kali menjalin kontak dengan bangsa Aztek, mereka langsung merasa takjub lantaran bangsa Aztek memiliki budaya yang berbeda jauh dari bangsa Eropa.
Walau dari segi teknologi bangsa Aztek nampak lebih inferior dibandingkan bangsa Eropa, bangsa Aztek memiliki caranya sendiri dalam memanfaatkan wilayah tinggal dan sumber daya di sekitarnya. Berikut beberapa hal mengagumkan yang pernah dibuat oleh bangsa Aztek.
MENARA TENGKORAK
Bangsa Aztek sudah lama dikenal dengan reputasinya sebagai bangsa yang menyukai kekerasan, akibat seringnya mereka melakukan ritual pengorbanan manusia. Penemuan menara tengkorak di reruntuhan bangunan Aztek, semakin mempertegas reputasi menakutkan yang dimiliki oleh bangsa Aztek.
Pada tahun 2015, tim arkeolog menemukan menara tengkorak berusia sekitar 5 abad di bawah kota Mexico City. Dinding menara ini terbuat dari tengkorak manusia dan material menyerupai semen. Jumlah tengkorak yang menyusun menara ini diperkirakan mencapai puluhan ribu tengkorak. Namun ilmuwan meyakini kalau jumlahnya masih lebih banyak, karena bagian dasar menara ini belum ditemukan.
Ilmuwan menduga kalau menara tengkorak ini merupakan bagian dari Huey Tzompantli, menara tengkorak berdiameter 60 meter. Saat kerajaan Aztek masih berdiri, Huey Tzompantli termasuk dalam kompleks pemujaan dewa matahari sekaligus dewa perang Huitzilopochtli. Keberadaan Huey Tzompantli sempat disinggung oleh bangsa Spanyol saat mereka menaklukkan kerajaan Aztek pada abad ke-16.
Ilmuwan pada awalnya mengira kalau tengkorak-tengkorak yang menyusun menara ini semuanya berasal dari tahanan perang yang dijadikan korban persembahan. Namun pemeriksaan mendalam pada tengkorak-tengkorak tersebut menunjukkan, bahwa ada di antara mereka yang baru berusia anak-anak atau berjenis kelamin wanita.
PEDANG TAJAM TANPA LOGAM
Jika mendengar kata pedang, maka orang seketika bakal langsung membayangkan senjata tajam berukuran panjang yang terbuat dari logam. Bangsa Aztek juga mengenal penggunaan pedang, namun pedang yang mereka gunakan tidak terbuat dari bahan logam akibat sulitnya mendapatkan bijih besi di lokasi tinggal mereka.
Sebagai gantinya, bangsa Aztek pun membuat pedang yang terbuat dari kayu. Di kedua sisi pedang tersebut, terdapat potongan-potongan batu obsidian yang sudah diasah tajam. Pedang khas bangsa Aztek ini dikenal dengan nama macuahuitl.
Mungkin kita berpikir karena pedangnya tidak menggunakan bahan logam sama sekali, maka pedangnya pasti rapuh. Faktanya, macuahuitl justru aslinya merupakan senjata yang mematikan. Menurut kesaksian orang Spanyol, macuahuitl cukup kuat untuk memenggal leher seekor kuda.
Selain dapat digunakan untuk menebas, macuahuitl juga bisa digunakan untuk mematahkan luka sehingga korbannya tidak dapat melarikan diri. Bangsa Aztek sendiri memang lebih suka membiarkannya tetap berada dalam kondisi hidup-hidup, agar kelak dapat dijadikan korban persembahan kepada dewa.
Seperti halnya macuahuitl, pisau yang digunakan untuk membunuh korban persembahan juga terbuat dari batu obsidian tajam. Pisau tersebut biasanya juga dilengkapi dengan ukiran rumit di bagian gagangnya.
PIRAMIDA
Tidak hanya bangsa Mesir Kuno yang membangun piramida, karena ternyata bangsa Aztek juga melakukannya. Tidak seperti piramid Mesir, piramid Aztek nampak lebih berundak dan memiliki bagian puncak yang datar. Di bagian atas piramid tersebut, bangsa Aztek membangun kuil kecil.
Jika piramid bangsa Mesir berfungsi layaknya makam raksasa, maka piramid bangsa Aztek berfungsi sebagai tempat untuk kegiatan keagamaan. Pendeta Aztek sering melakukan pengorbanan manusia di puncak piramid. Setelah mengambil jantung korban sebagai bentuk persembahan kepada dewa, tubuh korban yang sudah tidak bernyawa kemudian dilemparkan ke bawah hingga menggelinding menuruni tangga.
Kota Tenochtitlan yang di masa kini menjadi lokasi dari ibukota negara Meksiko adalah contoh di mana bangunan piramid ditemukan. Piramid yang ada di Tenochtitlan tingginya mencapai 60 meter. Walau piramid raksasa Tenochtitlan terletak di ibukota kerajaan Aztek, yang membangun piramid ternyata bukanlah bangsa Aztek, melainkan bangsa Teotihuaca yang lebih dulu mendiami lokasi cikal bakal Tenochtitlan.
Di puncak piramid, terdapat 2 kuil yang masing-masingnya digunakan sebagai tempat untuk memuja dewa hujan Tlaloc dan dewa matahari Huitzilopochtli. Piramid megah tersebut sayangnya sekarang sudah tidak dapat dijumpai, karena dihancurkan oleh bangsa Spanyol pada tahun 1521. Namun miniatur dari piramid raksasa tersebut dapat dijumpai di museum Meksiko.
PULAU BUATAN
Bangsa Aztek bukan hanya terkenal dengan keahliannya di medan perang, mereka juga terkenal karena bisa membuat pulau buatan. Kebetulan ibukota Kerajaan Aztek memang terletak di tengah-tengah Danau Texcoco.
Agar dapat memanfaatkan lahan basah di sekitarnya, bangsa Aztek pun mengembangkan teknik membangun pulau buatan di tengah danau. Pulau buatan bangsa Aztek ini dikenal dengan nama chinampa. Bangsa Aztek biasanya menggunakan chinampa untuk bercocok tanam di atasnya.
Karena chinampa dibangun di tengah-tengah danau, tanaman yang ditanam di chinampa tidak akan dilanda masalah kekurangan air. Untuk pupuknya, penduduk Aztek akan menggunakan kotoran mereka sendiri. Dengan begitu, mereka dapat menyuburkan tanamannya sambil menjaga agar danaunya tetap bersih.
Chinampa biasanya memiliki panjang 30 m dan lebar 2,5 m. Untuk membangun chinampa, bangsa Aztek awalnya akan membuat petak yang terbuat dari jalinan tanaman. Di dalam petak tersebut, penduduk Aztek akan memasukkan campuran lumpur dan tanaman yang sudah mati. Supaya chinampa tidak hancur akibat erosi, bagian pinggir chinampa akan ditanami dengan pohon.
SEPAK BOLA
Permainan sepak bola tidak hanya dikenal di masa kini. Saat kerajaan Aztek masih berdiri, penduduk setempat ternyata juga mengenal permainan menyerupai sepak bola. Oleh bangsa Aztek, olah raga menyerupai sepak bola ini dikenal dengan nama ullamaliztli. Permainan ini aslinya diciptakan oleh suku Olmek sebelum kemudian diadopsi oleh bangsa Aztek.
Sepak bola khas bangsa Aztek dimainkan di lapangan khusus yang terletak di sebelah kuil dewa matahari Huitzilopochtli. Bukan tanpa alasan mengapa lapangannya dibangun tepat di sebelah bangunan keagamaan. Permainan sepak bola ini memang dimaksudkan bukan untuk hiburan semata, tetapi juga sebagai cara untuk menghormati dewa mereka.
Lapangan bola Aztek berbentuk panjang dan sempit layaknya gang. Di kedua sisinya, terdapat bidang miring yang berbatasan dengan tembok setinggi 3 meter. Bola yang digunakan untuk permainan ini terbuat dari getah karet yang sudah dikeringkan, sementara yang digunakan sebagai gawang adalah cincin batu berdiameter hampir 90 cm.
Permainan ini dimainkan oleh 2 tim yang masing-masingnya berusaha untuk memasukkan bola ke cincin batu. Masing-masing pemain hanya boleh menggunakan kaki, badan, siku, dan kepalanya untuk menyentuh bola. Jika tidak ada yang berhasil memasukkan bola ke cincin batu, pemenang akan ditentukan dari tingkat keterampilan pemainnya selama permainan berlangsung.
Permainan sepak bola Aztec menyimbolkan pertarungan antara siang dan malam, sementara bola yang dimainkan konon menyimbolkan kepala manusia yang dijadikan korban persembahan. Oleh karena itu, tidak jarang seusai permainan ada pemain yang kehilangan nyawanya akibat dijadikan tumbal persembahan kepada dewa.
