Kapal selam adalah kapal yang dapat menyelam dan berlayar di bawah laut. Seperti halnya kapal biasa, kapal selam juga dapat menghadapi resiko tenggelam.

Bahkan resiko yang dihadapi kapal selam aslinya jauh lebih tinggi, karena jika kapal selam sampai mengalami gangguan para awaknya tidak dapat langsung pergi menyelamatkan diri.

Berikut ini beberapa insiden tenggelamnya kapal selam.

Kapal Selam Kursk

Rusia merupakan negara terbesar di dunia. Karena memiliki wilayah darat yang luas, Rusia pun memiliki garis pantai yang panjang. Negara yang beribukota di Moskow ini secara geografis berbatasan dengan Samudera Arktik di sebelah utara, dan Samudera Pasifik di sebelah timur.

Agar dapat melindungi wilayah lautnya, Rusia pun memiliki angkatan laut yang megah. Negara ini memiliki sejumlah unit kapal selam sebagai bagian dari armada lautnya.

Kursk atau lengkapnya K-141 Kursk adalah satu dari sekian banyak kapal selam tersebut. Kapal selam bertenaga nuklir ini pertama kali diluncurkan pada tahun 1994. Sayang kapal selam ini tidak berumur panjang, karena hanya berselang 6 tahun kemudian kapal ini menjadi korban dari kecelakaan yang menewaskan semua awaknya.

Kisah tragis yang menimpa Kursk berawal pada tanggal 10 Agustus 2000, kapal ini ikut serta dalam latihan militer bersama dengan kapal perang Rusia lainnya. Latihan tersebut dilangsungkan di perairan Rusia barat laut yang berdekatan dengan wilayah Finlandia dan Norwegia.

Latihan militer ini rencananya akan berlangsung selama beberapa hari. Di hari pertama, Kursk melakukan latihan peluncuran misil tanpa kendala.

Namun saat latihan memasuki hari ketiga, terjadi insiden yang tidak diduga oleh siapapun. Saat Kursk hendak melakukan latihan peluncuran torpedo, mendadak terjadi ledakan di ruang torpedo.

Begitu ledakan terjadi, air laut langsung masuk ke dalam dan memenuhi badan. Ledakan juga menimbulkan kebakaran yang asapnya mencekik para awak di ruangan terjadinya kebakaran.

Saat bencana ini terjadi, Kursk sedang mengangkut 118 orang awak. Tidak ada yang selamat dalam tragedi naas ini.

Karena Kursk berukuran amat besar, militer Rusia merasa kewalahan saat mencoba menarik kembali bangkai kapal selam ini ke darat. Baru pada tahun 2001, bangkai Kursk akhirnya berhasil diangkat ke darat dalam kondisi sudah setengah hancur.

Kapal Selam Titan

Kapal selam bukan hanya digunakan oleh kalangan militer. Ada pula kalangan sipil yang menggunakan kapal selam untuk tujuan riset bawah laut dan pariwisata.

Titan adalah contoh kapal selam yang tujuan penggunannya bukan untuk keperluan militer. Kapal selam ini dioperasikan oleh perusahaan OceanGate untuk keperluan wisata bawah laut. Tepatnya untuk mengamati bangkai kapal Titanic secara langsung di dasar Samudera Atlantik.

Titan sendiri pada akhirnya harus bernasib naas layaknya kapal yang diamatinya tersebut. Pada tanggal 18 Juni 2023, Titan hancur dan tenggelam tidak jauh dari lokasi tenggelamnya kapal Titanic.

Saat Titan tenggelam, kapal selam mini tersebut sedang mengangkut 5 orang. Tidak ada penumpang yang selamat dalam insiden tenggelamnya kapal selam ini.

Upaya penyelamatan sempat dilakukan oleh angkatan laut Amerika Serikat dan Kanada tidak lama setelah Titan dinyatakan hilang. Namun baru 4 hari kemudian, serpihan-serpihan bangkai kapal selam Titan berhasil ditemukan.

Menurut para pengamat, insiden ini terjadi karena Titan mengalami kebocoran dan kemudian hancur akibat tekanan bawah laut. Mantan pegawai OceanGate juga mengaku kalau beberapa tahun sebelumnya, ia dipecat karena mengkritik standar keamanan pada kapal selam Titan.

KRI Nanggala

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Karena memiliki wilayah laut yang luas, Indonesia pun memerlukan angkatan laut yang kuat. Atas itulah, Indonesia pun memiliki unit kapal selamnya sendiri.

KRI Nanggala adalah satu dari sekian banyak unit kapal selam yang dimiliki oleh Indonesia. Dibandingkan dengan Kursk, Nanggala memiliki riwayat sejarah yang jauh lebih panjang. Pasalnya kapal selam buatan Jerman ini sudah digunakan oleh angkatan laut Indonesia sejak tahun 1981.

Sepanjang sejarahnya tersebut, KRI Nanggala sempat berlayar hingga sejauh Samudera Hindia dan Laut Timor. Namun sayang, riwayat KRI Nanggala harus berakhir secara tragis akibat insiden kecelakaan yang terjadi pada tahun 2021.

Pada tanggal 21 April 2021, KRI Nanggala melakukan latihan peluncuran torpedo di sebelah utara Bali. Namun di tengah-tengah berlangsungnya latihan, KRI Nanggala mendadak tidak bisa lagi dihubungi.

Dugaan kalau KRI Nanggala mengalami musibah dan tenggelam pun langsung merebak, upaya pencarian lantas dilakukan untuk mengetahui benar tidaknya dugaan tersebut. Dalam upaya pencarian tersebut, militer India, Singapura, dan Australia juga turut memberikan bantuannya.

Tanggal 25 April, bangkai KRI Nanggala akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi hancur. Ada 53 orang awak yang ada dalam kapal selam, mereka semua dinyatakan meninggal dalam insiden naas ini.

Menurut salah satu teori, KRI Nanggala diyakini tenggelam akibat mati listrik. Pasalnya sebelum insiden ini terjadi, KRI Nanggala juga pernah mengalami insiden mati listrik.

Jika memang benar KRI Nanggala tenggelam akibat mati listrik, hal tersebut diyakini merupakan dampak yang timbul dari kurangnya perawatan rutin yang dijalani oleh KRI Nanggala. Sebelum tenggelam, Letkol Heri Oktavian yang ikut meninggal dalam insiden ini mengeluhkan kalau KRI Nanggala tidak mendapatkan perawatan rutin yang sesuai dengan standar.