Metode Pembayaran Unik Dan Aneh Di Dunia
Dalam melakukan transaksi jual beli, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia masih menggunakan metode konvensional, yaitu dengan membawa uang tunai untuk bisa membeli barang yang kita inginkan. Selain metode konvensional, negara kita dan negara-negara lain juga sudah memberlakukan metode non tunai, yaitu dengan menggunakan kartu kredit atau kartu debet sehingga transaksi jadi lebih praktis.
Ternyata, metode transaksi tidak hanya dengan memakai metode konvensional berupa uang tunai atau kartu kredit saja, karena ada metode yang lebih canggih. Metode pembayaran yang terbilang unik ini, bahkan sudah diterapkan di berbagai negara.
Berikut beberala metode transaksi terunik dan canggih yang ada di dunia.
BAYAR DENGAN GELANG ATAU CINCIN
Metode pembayaran yang berfungsi mirip seperti kartu kredit ini menggunakan teknologi NFC (Near Field Communication), yang kini sudah mulai diterapkan di berbagai smartphone. Saat ingin membayar barang yang ingin dibeli, cukup dekatkan gelang yang dipakai ke mesin scan NFC-nya, dan otomatis barang yang mau dibeli sudah terbayar. Setiap orang tidak perlu lagi repot membawa kartu atau dompet, cukup dengan menunjukkan gelangnya saja. Selain praktis, gelangnya bentuknya cocok untuk bergaya bagi anak-anak muda.
Aturan serupa juga berlaku pada cincin. Cincin pintar ini nantinya akan terhubung ke kartu kredit konsumen, jadi sebenarnya fungsi dari cincin ini sama dengan kartu kredit. Untuk sementara, metode pembayaran menggunakan cincin ini hanya dilakukan pengguna kartu Visa di Amerika Serikat.
BAYAR DENGAN SIDIK JARI
Sidik jari biasanya dipakai oleh kepolisian sebagai identitas dari pelaku-pelaku criminal, sidik jari juga perusahaan atau kantor untuk daftar kehadiran karyawan atau absensi. Selain dipakai untuk absensi, ternyata sidik jari juga punya fungsi lain untuk melakukan transaksi jual beli atau pembayaran. Negara yang telah menerapkan metode pembayaran menggunakan sidik jari ini adalah Jepang. Caranya mirip dengan pembayaran dengan menggunakan gelang atau cincin, cukup memakai sidik jari untuk melakukan berbagai transaksi. Nantinya, metode ini juga akan digunakan Jepang untuk mengambil uang di mesin ATM.
Sebagai percobaan sistem tersebut, pada tahun 2016 lalu pemerintah Jepang meletakkan 300 alat pemindai sidik jari yang tersebar di berbagai pusat wisata, seperti toko souvenir, restoran, hotel, dan lain-lain. Walau sudah memakai sensor sidik jari, konsumen masih harus membutuhkan paspor saat ingin memesan kamar di hotel.
RETINAL SCAN PAYMENT
Sesuai namanya, hanya dengan tatapan mata saja kita sudah dapat melakukan transaksi. Negara yang sudah menerapkan metode pembayaran ini adalah Jepang. Retinal Scan Payment ini terdapat dalam smartphone buatan Jepang, yang teknologinya disebut pengenalan selaput pelangi mata (iris recognition). Tentu saja, para pengguna smartphone di Jepang itu harus mengunduh aplikasinya terlebih dulu. Saat ingin melakukan transaksi cukup menyorotkan pandangan mata di layar kamera smartphone, karena smartphone ini juga telah dilengkapi dengan fitur biometric eye print.
SJ MICROCHIP IMPLANTS
Metode pembayaran bernama SJ Microchip Implants menggunakan chip yang ditanam di dekat pergelangan, sehingga memudahkan transaksi. Walau belum dipakai di semua negara, salah satu negara yang sudah mulai menggunakan metode pembayaran ini adalah Swedia, tepatnya dipakai untuk pembayaran SJ Rail. Ternyata, metode pembayaran ini sudah diperkenalkan sejak tahun 2015 lalu. Untuk membayar tiket kereta petugas cukup memindai tangan penumpang kereta, karena chip itu sudah menyimpan informasi akun tiket pribadi.
Kemungkinan besar metode pembayaran ini akan jadi metode pembayaran yang kurang populer, mengingat proses implan chip-nya sendiri terbilang merepotkan dan berisiko. Ditambah lagi masih banyak orang yang takut dengan jarum suntik. Selain itu, risiko lainnya yang dihadapi adalah teknologi ini bisa disalahgunakan dan merugikan banyak orang. Ditambah lagi terdapat masalah kesehatan saat melakukan implan, seperti infeksi atau reaksi negatif pada sistem kekebalan tubuh. Chip-nya sendiri berukuran sangat kecil, yaitu hanya ukuran satu butir beras. Chip itu ditanam dengan menggunakan jarum suntik ke bagian belakang telapak tangan. Beberapa perusahaan di Swedia sudah menerapkan teknologi ini pada karyawannya, dengan tujuan mempercepat akses masuk gedung, dan untuk membayar makanan di kantin.
SMILE TO PAY
Jika biasanya untuk transaksi membutuhkan kartu kredit atau kartu debet, maka untuk transaksi yang dilakukan untuk membeli makanan di gerai KFC di Tiongkok adalah dengan senyuman, yang dinamakan dengan Smile to Pay. Cukup senyum, maka kita sudah dapat membayar menu makanan yang dipesan. Smile to Pay ini dikembangkan oleh Yum China Holdings Inc. yang bekerja saja dengan Ant Financial.
Sistem pembayaran ini ternyata menggunakan teknologi pengenalan wajah atau face recognition system. Pertama, sebelum memilih menu makanan yang diinginkan, sistem perlu memindai wajah konsumen terlebih dulu. Setelah itu, nomor ponsel konsumen juga perlu dimasukkan dengan tujuan terhindar dari penipuan serta pemalsuan identitas. Alat pemindai di gerai tersebut memakai kamera 3D dan deteksi algoritma, sehingga Smile to Pay ini hanya dapat digunakan oleh identitas yang bersangkutan.
Teknologi alat pemindai di gerai tersebut cukup canggih dan akurat. Walau orangnya sama, namun jika dia memakai make up yang berbeda, memakai rambut palsu, maka alat tersebut akan mengenalinya sebagai orang lain dan tidak dapat melanjutkan transaksinya.
