Burning Man merupakan acara musik populer yang diadakan pada musim panas, di tengah gurun Nevada. Festival ini tidak konvensional dan sangat berbeda dari yang lain, karena menggabungkan seni, musik, dan berbagai pertunjukan unik lain.

Festival ini juga menawarkan kesempatan kepada peserta untuk menjadi bagian dari observatorium dan melihat sekilas Saturnus, Jupiter, dan pemandangan menarik lainnya. Berikut beberapa fakta menarik tentang burning man.

Festival ini awalnya dihadari sekitar 20 orang di San Francisco, Calif pada tahun 1986. Konsepnya dibuat secara spontan oleh Jerry James dan Larry Harvey,  dengan membakar patung kayu untuk menandai Titik Balik Matahari Musim Panas. Harvey sendiri terinspirasi oleh seorang seniman bernama Mary Grauberger yang membuat patung dan membakarnya.

Harvey tidak menyangka, jika aksinya disukai oleh teman-temannya yang lain. Dia pun membuat acara tersebut pada tahun berikutnya, dan melahirkan istilah Burning Man.

Setelah perkumpulan pertama itu, acara tersebut semakin populer. Empat tahun berlalu, festival itu dihiasi patung kayu setinggi 12 meter. Larry Harvey dan teman-temannya mencari lokasi yang lebih luas untuk mengadakan acara yang telah mereka rencanakan.

Mereka pun memilih Gurun Batu Hitam di Reno, Nevada, yang juga dihadiri oleh kelompok bernama Cacophonist Society. Acara di tengah padang pasir itu diakhiri dengan ritual pembakaran khas mereka ditambah dengan aksi lainnya, seperti balapan di padang pasir.

Burning Man juga menawarkan kesempatan langka bagi peserta dengan menulis surat kepada seseorang yang sudah meninggal. Surat itu akan dikumpulkan di sebuah kuil, dan kuil akan dibakar selama festival. Banyak yang menganggap ritual itu sangat menyentuh.

Kuil ini sangat penting dan menjadi simbolis, kuil ini menjadi ruang spiritual bagi pengunjung untuk membebaskan pikiran. Mereka juga bisa menuliskan apa yang sedang mereka rasakan tentang orang lain, atau untuk diri sendiri.

Burning Man memiliki sepuluh prinsip yang diikuti oleh para loyalisnya, salah satu prinsipnya adalah memberi hadiah kepada peserta lain tanpa syarat dan tanpa harapan. Selain itu, festival ini menolak komersialisasi seperti iklan. Burning Man menerapkan rasa kebersamaan untuk menjaga api agar tetap menyala.

Peserta juga harus menghormati aturan, dan tidak boleh melanggarnya. Prinsip lain mencangkup pentingnya menjaga lingkungan dan keindahannya, aeperti yang dijelaskan situsnya.

Keragaman menjadi bagian penting dari Burning Man. Bahkan, menurut salah satu dari sepuluh prinsipnya, peserta dari berbagai latar belakang diminta untuk hadir. Burning Man memiliki konsep inklusif seperti tidak membatasi usia peserta dalam festival.

Namun, salah satu masalah utama di festival ini adalah harga tiketnya yang sangat mahal, harganya mencapai 1.000 US dolar atau lebih. Harga tiket yang mahal ini menyulitkan banyak penggemar untuk hadir dan menjadi bagian dari Burning Man.

Terlepas dari niat baik, Burning Man pernah mengalami kontroversi dan dianggap menyimpang. Banyak influencer media sosial berbondong-bondong ke Burning Man dan mempromosikan berbagai brand di festival, suatu tindakan yang jelas bertentangan dengan semangat aslinya.

Keluhan mulai mengalir dari peserta Burning Man lama yang menunjukkan, bahwa festival mengalami banyak kemunduran. Selain itu, diduga bahwa kelompok berkemah di Burning Man merusak acara tersebut. Burning Man menanggapi keluhan tersebut dan melarang kamp mempromosikan sesuatu seperti retret yoga dan sesi meditasi.

Burning Man mendapat perhatian dari perusahaan teknologi, misalnya pengusaha Shane Metcalf yang memberikan tiket secara gratis untuk karyawannya. Inisiatif ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada anggota timnya untuk lebih kreatif dan terhubung satu sama lain.

Perusahaan lain, Faceparty, pada tahun 2007 mewajibkan karyawannya untuk menghadiri festival Burning Man. Selain itu, banyak pemain besar di bidang teknologi, seperti pendiri Tesla Elon Musk, Garrett Camp dari Uber, dan mantan CEO Google Eric Schmidt, yang pernah menjadi bagian dari Burning Man dan menunjukkan dukungan mereka untuk festival tersebut.

Pada tahun 2018 terjadi kekerasan seksual di festival Burning Man, hal ini pun menjadi trending di sosial media dengan gerakan #MeToo. Ternyata, beberapa peserta memang menginginkan beberapa perubahan dalam festival Burning Man bahkan sebelum gerakan #MeToo dimulai.

Sebuah proyek dimulai pada tahun 2012, salah satu anggota dari proyek tersebut, Jaime Chandra, mengatakan bahwa banyak sekali laporan kekerasan seksual dari Black Rock City.

Burning Man pun fokus untuk mengatasi kekerasan seksual di acara tersebut, para peserta festival pun diminta untuk mencari bantuan dan melaporkan jika mengalami pelecehan seksual. Situs web Burning Man menyatakan, bahwa festival tidak mentolerir pelecehan seksual dalam bentuk apa pun.

Bandara Internasional Reno-Tahoe menyaksikan kedatangan banyaknya peserta festival Burning Man setiap tahunnya dari berbagai belahan dunia. Diyakini bandara tersebut mendapat pemasukan sebanyak 10 juta US dolar setiap tahunnya berkat mereka yang pergi ke festival.

Larry Harvey, salah satu pendiri Burning Man tidak menyangkal bahwa tim festivalnya memang mengandalkan ekonomi pasar agar acara itu dapat terealisasi dengan baik. Timnya juga menggunakan alat seperti crowdfunding untuk menyukseskan acara, dan memasang instalasi seni yang megah setiap tahunnya.

Burning Man bukanlah acara yang membosankan atau bisa ditebak. Dari sisi acara musik, ada banyak perubahan yang dilakukan oleh Burning Man. Burning Man menyambut semua artis ke perayaannya, termasuk DJ populer seperti Armin Van Buuren, Tiesto, dan Skrillex.

Seperti yang ditunjukkan oleh Billboard, musik elektronik mendominasi acara tersebut. Namun Burning Man kehilangan ciri khasnya yang dulu, seperti menghadirkan DJ yang tidak terkenal ke festival.

Saat terjadi pandemi virus corona, perayaan tahunan Burning Man yang secara resmi dibatalkan akibat pandemi. Walau begitu, beberapa merayakannya dengan versi mereka sendiri. Sejumlah loyalis Burning Man berbondong-bondong ke Nevada sekitar akhir Agustus 2020, namun mereka tetap mematuhi protokol kesehatan seperti menjaga jarak.

Secara teknis Burning Man memilih untuk menyelenggarakan acaranya secara online pada tahun 2020, namun beberapa pengunjung festival masih mendatangi Black Rock Desert. Tim resmi menyelenggarakan acara yang bertajuk “Not Burning 2020” yang dihadiri sedikitnya 1.000 peserta.