Selama lebih dari 2.000 tahun, Tiongkok dipimpin oleh kekaisaran hingga akhirnya runtuh di dinasti Qing dan berubah menjadi negara berideologi. Kaisar Puyi merupakan kaisar terakhir Tiongkok, dan dia menjalani kehidupan yang sangat menarik di era perubahan Tiongkok yang bergejolak.

Sejarah kekaisaran Tiongkok kuno membentang panjang. Dahulu, Tiongkok dikenal dunia dengan sebuah bentuk pemerintahan politik yang diwariskan secara turun-temurun dalam sistem kedinastian nyaris tanpa putus. Berikut adalah beberapa fakta unik tentang Kaisar Puyi.

KAISAR TERMUDA

Puyi lahir dalam keluarga kerajaan Dinasti Qing pada 7 Februari 1906. Ayahnya adalah Pangeran Chun dan ibunya adalah Putri Youlan. Ia tumbuh dalam lingkungan istana, sehingga pengetahuannya tentang dunia luar sangat minim.

Puyi naik tahta Dinasti Qing pada umur dua tahun, setelah pamannya, Kaisar Guangxu meninggal pada 14 November 1908. Pada usia 2 tahun 10 bulan, Puyi dipanggil ke Kota Terlarang oleh Permaisuri Cixi yang sekarat. Dia diberitahu untuk menggantikan Kaisar Guangxu, karena dia tidak memiliki ahli waris. Puyi merupakan keponakan Guangxu.

Secara resmi ia bergelar Kaisar Xuantong, tapi untuk melakukan administrasi pemerintahan secara langsung ia masih diwakili oleh deputi kerajaan, karena masih kecil dan belum mengerti apa-apa.

KAISAR PERTAMA YANG BELAJAR BAHASA INGGRIS DAN MEMAKAI JAS

Puyi menjadi kaisar pertama yang dapat berbicara dan menulis bahasa Inggris. Dia juga dikenal sebagai Henry, nama yang dipilih oleh guru bahasa Inggrisnya, orang Skotlandia bernama Reginald Johnston.

MENJADI KEPALA PEMERINTAHAN BONEKA SELAMA PENJAJAHAN JEPANG ATAS TIONGKOK

Selama penjajahan Jepang, Puyi hidup dan tinggal di Kota Tianjin. Hingga pada 1932, ia membuat kesepakatan dengan Jepang untuk menjadi kepala pemerintahan Manchukuo, suatu wilayah di Utara Tiongkok yang dikuasai Jepang. Hal itu sekaligus menjadikannya ‘boneka’ kekaisaran Jepang.

MENJALANI 10 TAHUN PENJARA SEBAGAI PENJAHAT PERANG

Setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada tahun 1949, Puyi harus “direformasi” di bawah “program pendidikan ulang Komunis” untuk tahanan politik. Dengan demikian ia menghabiskan sepuluh tahun di Pusat Manajemen Penjahat Perang Fushun di Provinsi Liaoning dari tahun 1950 hingga 1959.

MENGHABISKAN 8 TAHUN TERAKHIRNYA SEBAGAI WARGA NEGARA BIASA

Setelah dibebaskan dari penjara, ia menjadi warga negara Republik Rakyat Tiongkok dengan izin khusus dari Ketua Mao Zedong. Ia bahkan menjadi anggota CPPCC (Komite Nasional Keempat dari Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok).

Dia juga sempat bekerja sebagai tukang kebun dan penjual tiket di Taman Botani Beijing dari tahun 1960. Setelah itu, dari tahun 1964 hingga kematiannya pada tahun 1967, dia bekerja sebagai editor untuk Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok.

SATU-SATUNYA KAISAR YANG DINOBATKAN 3 KALI

Walau dinobatkan menjadi kaisar hingga tiga kali, Puyi sebenarnya tidak berkuasa bahkan untuk sehari pun. Pasalnya, Puyi adalah “kaisar boneka”. Pada penobatan pertama, ia memerintah Dinasti Qing sebagai Kaisar Xuantong dari tahun 1908 hingga 1912. Namun, ayahnya, Zaifeng, adalah penguasa yang sebenarnya dengan jabatannya sebagai bupati. Pada penobatan kedua di tahun 1917, Puyi dikembalikan ke tahta oleh panglima perang Zhang Xun, seorang jenderal loyalis Dinasti Qing. Sayangnya, pemulihan Dinasti Qing hanya berlangsung selama 12 hari. Pada penobatan terakhir, Jepang menjadikan Puyi penguasa Manchukuo, negara boneka Kekaisaran Jepang dan menjabat pada 1943-1945.

TURUN TAHTA MENANDAKAN AKHIR DARI KEKAISARAN TIONGKOK

Setelah 2.133 tahun, sejarah kekaisaran Tiongkok diakhiri dengan turunnya Puyi dari takhta pada 12 Februari 1912, menyerahkan kekuasaan kepada tentara Republik Yuan Shikai. Tahun 1911, rakyat Tiongkok mengobarkan gerakan revolusi melawan Dinasti Qing. Gerakan yang mengatasnamakan Republik Tiongkok itu berhasil mengambil alih pemerintahan.

Pada 12 Februari 1912, sebagai akibat gerakan revolusi, Puyi dipaksa turun tahta, sekaligus mengakhiri sejarah 267 tahun kekuasaan Dinasti Qing dan 2.133 tahun sistem kekaisaran Tiongkok. Walau begitu, ia masih diizinkan melanjutkan hidup di dalam istana di Beijing dengan tanpa kekuasaan sama sekali.