Diketahui Gunung Everest adalah gunung tertinggi di dunia, dan pasti sulit untuk mendaki gunung ini tanpa mengenal medan yang harus dilalui. Para pendaki yang ingin menaklukkan puncak Everest pun perlu dipandu oleh orang yang lihai dan paham seluk beluk Pegunungan Himalaya.

Oleh kerena itu, orang dari Suku Sherpa hadir untuk mereka. Setiap perjalanan pendaki yang mencapai puncak Everest, pasti terdapat orang dari suku Sherpa di antaranya. Resiko tersesat di jalan hingga tidak bisa kembali pulang mungkin terjadi, bila tidak dipandu oleh orang Sherpa. Berikut fakta-fakta tentang Suku Sherpa.

Pada dasarnya yang disebut sebagai suku Sherpa ialah suatu komunitas penutur Bahasa Sherpa. Orang Sherpa merupakan sebutan bagi kelompok etnis yang tinggal di wilayah dataran tinggi Pegunungan Himalaya selama beberapa generasi.

Saat ini, mereka terkenal sebagai pemandu dan porter yang membantu para pendaki dari berbagai negara untuk mencapai puncak Everest. Pengetahuan dan keahlian lokal orang Sherpa sangat berguna bagi para pendaki yang asing dengan medan pendakian.

Beberapa anggota suku Sherpa telah terlibat dalam pendakian di sekitar Pegunungan Himalaya yang dilakukan oleh orang-orang Inggris sejak tahun 1920-an. Orang-orang Inggris yang merencanakan ekspedisi pendakian gunung, memperkerjakan orang-orang Sherpa untuk membawa berbagai peralatan dan sebagai petunjuk jalan.

Orang-orang dari suku tersebut sudah dibekali dengan kemampuan fisik dan mental yang menjadi bagian dari budaya suku Sherpa. Oleh karena itu, para pendaki pun menilai orang Sherpa sebagai sosok pekerja keras, baik hati, dan berani. Mereka juga dapat dipercaya untuk membimbing para pendaki menuju puncak..

Bertahan dalam ketinggian ekstrem dalam waktu yang lama bukanlah hal yang mudah. Kemampuan adaptasi suku Sherpa di dataran tinggi Himalaya membuat sebagian ilmuan bertanya-tanya.

Suku Sherpa dapat mengatasi atmosfer rendah oksigen di pegunungan Himalaya, jauh lebih baik daripada mereka yang mengunjungi wilayah tersebut. Studi yang dilakukan oleh Profesor Andrew Murray dari Cambridge University menyatakan, bahwa penyerapan gula darah oleh masyarakat Suku Sherpa jauh lebih besar dibanding lemak untuk membakar energi.

Mayoritas masyarakat dalam melakukan aktivitas sehari-hari menyerap lemak sebagai bahan bakar. Walau lemak menjadi bahan kabar yang baik, dalam proses metabolisme memerlukan lebih banyak asupan oksigen daripada glukosa.

Dengan penyerapan glukosa yang lebih besar, orang Sherpa mendapatkan lebih banyak kalori per unit oksigen yang dihirup. Hal itu membuat tubuh mereka menghasilkan tenaga 30 persen lebih banyak dibandingkan masyarakat dataran rendah. Bertahun-tahun hidup dalam ketinggian ekstrem, mengakibatkan mutasi genetik yang menyebabkan Suku Sherpa memiliki metabolisme pengolahan oksigen yang lebih efisien.

Hidup di wilayah pegunungan paling tinggi di dunia, suku Sherpa mencari nafkah dari pertanian dataran tinggi, peternakan, dan pemintalan wol serta tenun. Namun, setelah Pegunungan Himalaya ramai dengan berbagai ekspedisi pendakian, sebagian orang Sherpa beralih menjadi menjadi pemandu. Mereka juga menyediakan berbagai fasilitas untuk pendaki, seperti menyediakan perlengkapan, pemandu, penginapan, kedai kopi, hingga Wi-Fi.

Pendapatan yang diberikan industri pendakian Everest ini telah menjadikan Sherpa sebagai salah satu etnis terkaya di Nepal. Walau pendapatan yang didapatkan cukup tinggi, hal ini setara dengan resiko yang ditanggung. Bepergian di Gunung Everest adalah pekerjaan yang sangat berbahaya. Dilansir National Geographic, dari kasus kematian di Gunung Everest, setidaknya 40 persen berasal dari orang Sherpa.

Pada tanggal 18 April 2014, longsoran salju jatuh dan menewaskan 16 pendaki asal Nepal, di mana 13 di antaranya adalah orang Sherpa. Tentu saja ini menjadi adalah kerugian besar bagi komunitas Sherpa yang hanya terdiri dari sekitar 150 ribu orang.

Suku Sherpa dikenal suka bepergian dan telah bermigrasi ke beberapa daerah di sekitar Pegunungan Himalaya. Beberapa dari mereka membentuk sebuah grup kecil yang tersebar di Bhutan, China, Amerika Utara, Australia, hingga Eropa.

Banyak hal yang mendorong orang-orang Sherpa meninggalkan tanah airnya di Pegunungan Himalaya. Salah satunya ialah keterbatasan mata pencaharian sebagai pemandu dan porter untuk para pendaki. Sementara pekerjaan tersebut memiliki risiko yang cukup berat. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk berpindah ke wilayah lain untuk keberlangsungan hidup.

Kemampuan fisik suku Sherpa bertahan di Pegunungan Himalaya tidak dapat ditemukan di masyarakat lain. Jasa suku Sherpa dalam memandu dan membimbing berbagai pendaki dari belakan dunia pun dinilai sangat berharga.