Penduduk Romawi kuno dikenal sering menyimpan catatan tertulis tentang kehidupan mereka. Tidak mengherankan jika buku tentang sejarah dunia dan peradaban barat selalu mencakup sejarah Romawi di dalamnya. Namun, ada beberapa fakta terselubung yang tidak banyak diketahui oleh khalayak umum. Berikut Beberapa di antaranya.

Pernah Dipimpin Kaisar Transeksual

Para sejarawan mungkin mengenal sosok Kaisar Elagabalus, walau banyak orang belum pernah mendengarnya. Elagabalus merupakan seorang kaisar transeksual, tidak mengherankan jika sebagian besar sekolah dan buku sejarah akan menghindari pembahasan tentangnya.

Beberapa sumber sejarah menyatakan jika Elagabalus disunat seperti para pendeta pada masanya. Namun, ada juga klaim mengatakan penisnya telah diinfibulasi. Menurut sejarawan dan negarawan Romawi, Dio Cassius, Elagabalus menginginkan pengebirian kelamin demi masalah “kewanitaan” alih-alih atas nama agama.

Walau awalnya didukung oleh tentara Romawi, Elagabalus akhirnya dibenci oleh senat Romawi. Elagabalus pun dibunuh, kemudian mayatnya dimutilasi dan diseret di jalanan Kota Roma sebelum dilempar ke Sungai Tiber.

Caligula Menunjuk Kudanya Menjadi Anggota Senat

Menurut sejarawan Suetonius, Kaisar Caligula sangat memuja kudanya, Incitatus. Bahkan, ia menunjuk kudanya sebagai anggota Senat. Dengan memberikan jabatan publik yang tinggi kepada kudanya, Caligula mencoba untuk menjelaskan kepada senat kalau pekerjaan mereka tidak begitu berarti. 

Beberapa sejarawan berpendapat kalau hal ini dilakukan untuk menghina para senat dan elite Roma pada masa itu. Seperti yang diketahui, pemerintahan Caligula relatif singkat yang ditandai dengan perseteruan antara dirinya dan senat Romawi.

Mithridates Tumbuh Di Alam Liar Dan Kebal Racun

Walau secara teknis bukan kaisar Romawi, Raja Mithridates VI dari Pontus memainkan peran besar dalam sejarah Romawi kuno. Dia menjadi salah satu ancaman terbesar bagi Romawi layaknya Hannibal dari Kartago.

Saat masih kecil, Mithridates dianiaya dengan kejam oleh ibunya. Ia pun dibuang ke hutan dan dipaksa untuk tinggal di sana selama tujuh tahun. Selama di hutan, ia mencoba untuk bertahan hidup sambil mengembangkan ketertarikannya pada toksikologi.

Pada saat itu, ia terus menelan racun dosis rendah hingga dia kebal terhadapnya. Namun, strategi kebal racun ini menjadi bumerang saat dia menjadi raja Pontus. Saat kotanya dikepung pasukan Romawi yang dipimpin oleh Pompey, Mithridates mencoba bunuh diri dengan racun. Namun, ia tidak meninggal karena kebal terhadap racun. Mithridates pun meminta salah satu pengawalnya untuk membunuhnya.

Pemadam Kebakaran Crassus Yang Korup

Triumvirat pertama terdiri dari tiga orang yang sangat kuat, yakni Julius Caesar, Gnaeus Pompey, dan Marcus Crassus. Sayangnya, Crassus sering tersingkir dari sejarah Romawi kuno karena berada di bawah bayang-bayang Caesar dan Pompey yang luar biasa.

Salah satu cerita tentangnya yang kurang terkenal yaitu tentang unit pemadam kebakaran yang dibuat. Setiap kota besar pasti memiliki pemadam kebakaran, termasuk Roma. Namun, pemadam kebakaran buatan Crassus hanya akan memadamkan api saat sang pemilik menjual propertinya dengan harga yang murah ke Crassus. Satu-satunya pilihan mereka yaitu membiarkan semuanya terbakar habis, atau menjual dengan harga lebih murah kepada Crassus.

Memiliki Buku Yang Meramalkan Masa Depan

Mengutip buku Rubicon: The Last Years of the Roman Republic, dikatakan bahwa bangsa Romawi memiliki buku-buku yang ditulis dalam bahasa Yunani. Itu bukanlah koleksi buku biasa, di dalamnya terdapat ramalan tentang masa depan Romawi dan warganya, termasuk akhir dari Republik Romawi.

Buku-buku ini disimpan di dalam Kuil Yupiter di mana hanya penerjemah paling terampil yang diizinkan untuk membacanya. Sebuah legenda mengatakan ada seorang wanita tua mendekati Raja Lucius Tarquinius saat Roma masih diperintah oleh raja-raja Etruria.

Dikisahkan, wanita itu menawarinya sembilan buku dengan harga tinggi dan tidak masuk akal, yang kemudian ditolak oleh Tarquinius dengan ucapan “Harrumph!” Wanita itu pun membakar tiga buku dan menawarkan enam sisanya. Masih menuntut harga yang sama, Tarquinius menolak. Namun kali ini, dia mulai mempertanyakan buku-buku itu.

Wanita itu kembali membakar tiga buku lagi, dan menawarkan tiga sisanya. Tanpa pertimbangan lagi, Tarquinius pun langsung membeli tiga buku tebal itu. Setelah membacanya dengan teliti, ia tahu bahwa buku-buku itu adalah ramalan yang menceritakan tentang naik turunnya peradaban Romawi.

Banyak yang mengaitkan wanita tua itu dengan sibyl (orakel) yang telah meramalkan jatuhnya Troy. Sejak hari itu, buku-buku itu terus dirahasiakan dan dijaga ketat. Buku-buku itu hanya dibawa keluar ketika Kota Roma sedang dalam bahaya atau para pemimpinnya membutuhkan jawaban terhadap masalah yang dihadapi.