Secara historis, aturan pernikahan anggota keluarga kerajaan mungkin dianggap sangat aneh bagi orang normal. Menikah karena cinta, atau bahkan dengan pilihan sendiri, hampir mustahil.

Pernikahan kerajaan diatur sebagai bagian dari perjanjian, atau untuk mengkonsolidasikan kekuasaan. Bukan hal aneh, jika saat kecil mereka sudah dijodohkan. Pasangan mereka juga sering kali berasal dari orang-orang yang masih memiliki hubungan keluarga, atau bisa dianggap saudara dekat.

Kita pasti sudah tahu bahwa perkawinan sedarah dapat mengakibatkan masalah serius, yang menjelaskan mengapa beberapa keluarga kerajaan terkenal memiliki masalah terkait psikologis dan kecacatan. Berikut adalah perkawinan sedarah dari beberapa kerajaan di dunia yang tercatat dalam sejarah.

RAJA CHULALONGKORN

Chulalongkorn menjadi raja Siam pada tahun 1868 saat dia berusia 15 tahun. Selama masa pemerintahannya, Chulalongkorn memiliki 153 istri dan selir, bahkan ada yang saudara dekatnya sendiri.

Inses dilakukan oleh keluarga kerajaan Thailand selama berabad-abad. Ada kultus kepercayaan yang mengatakan, bahwa semakin banyak darah bangsawan yang seseorang miliki, maka semakin penting orang itu.

Jika seorang raja ingin anak-anaknya memiliki darah bangsawan sebanyak mungkin, dia harus menikah dengan sepupu perempuan, atau bibi, atau saudara kandung perempuannya sendiri. Bahkan di antara hubungan inses itu, ada hierarki.

Para pejabat Inggris di negara itu tidak setuju dengan praktik inses dan poligami, mereka mengklaim bahwa praktik tersebut sebagai keterbelakangan Thailand.

KAISAR ZAITIAN

Kaisar Qing kesepuluh, juga dikenal sebagai Zaitian, tidak dimaksudkan untuk menjadi raja. Namun, sepupunya meninggal di usia muda tanpa anak. Pada tahun 1875 ia dipilih sebagai penguasa berikutnya oleh seorang permaisuri janda, yaitu bibinya sendiri, Cixi.

Cixi pun mengatur pernikahan keponakannya, ia berniat menggunakan pernikahannya untuk memperkuat kekuatannya sendiri. Lalu Cixi memilih salah satu keponakannya yang lain, Xiao Ding Jing, sepupu pertama kaisar.

Baik Zaitian maupun Ding Jing sama sekali tidak menyukai perjodohan tersebut, mereka menentang pernikahan itu sejak awal, dan bahkan menolak untuk bertemu tunangannya. Begitu mereka dipaksa untuk menikah, kaisar tidak menaruh hati sedikit pun kepada Ding Jing. Ia justru menghabiskan waktunya dengan selir favoritnya.

Bahkan, saat selir dilempar ke dalam sumur dan ditenggelamkan kerenggangan terus berlanjut. Tidak mengherankan, pasangan itu tidak pernah memiliki anak.

MARIA, RATU PORTUGAL

Keluarga kerajaan Portugis dikenal dengan perkawinan sedarahnya yang berakhir bencana. Salah satunya Maria I, yang melanjutkan tradisi leluhurnya dengan menikahi pamannya sendiri.

Maria merupakan anak baik yang ingin menjadi biarawati. Namun saat semua saudara laki-lakinya meninggal, Maria menjadi pewaris ayahnya. Namun, untuk menjadi ratu dia harus menikah dengan keluarga kerajaannya sendiri.

Pada tahun 1760, dia menikah dengan pamannya, Pedro, adik laki-laki dari ayahnya. Bahkan, usia pamannya 17 tahun lebih tua darinya.

Walau perbedaan usia yang jauh, mereka memiliki hobi yang sama, yaitu suka pergi ke gereja. Mereka juga dikaruniai tujuh anak, walau banyak dari mereka meninggal muda.

Maria mulai bertingkah aneh sebelum Pedro meninggal pada tahun 1786, hingga akhirnya Maria secara resmi dinyatakan gila pada tahun 1792. Namun, tradisi pernikahan sejarah masih terus dilakukan saat putra Maria menikah dengan saudara bibinya, dan mereka tidak memiliki anak.

KAMEHAMEHA III

Inses bukanlah praktik yang bisa diterima oleh orang Hawaii biasa, namun itu merupakan hak istimewa bagi penguasa. Menikahi kerabat dekat perempuan, dianggap sangat penting bagi seorang tetua tinggi atau raja. Semakin dekat semakin baik, dan setiap anak yang lahir dari pasangan saudara laki-laki dan perempuan dianggap berkah ilahi.

Beberapa sejarawan percaya, bahwa Kamehameha dan saudara kandung perempuannya Nahi’ena’ena telah tidur bersama pada saat dia berusia 9 tahun. Tiga tahun kemudian, pada tahun 1827, berita tentang hubungan mereka sampai ke misionaris Kristen di pulau itu, dan mereka menentangnya.

Hal itu semakin memburuk pada tahun 1832, saat Kamehameha secara resmi naik takhta. Ia pun mengumumkan bahwa dia akan menikahi adik kandung perempuannya. Para misionaris mencoba membujuknya untuk mengakhiri hubungan mereka, namun mereka menikah secara rahasia.

Nahi’ena’ena akhirnya menikahi laki-laki yang diinginkan para misionaris itu, namun pada saat itu dia sudah mengandung anak dari saudara kandung laki-lakinya, Kamehameha III.

Kamehameha secara terbuka mengakui anak itu sebagai darah dagingnya, dan mengatakan bahwa anak itu akan menjadi ahli warisnya. Sayangnya, bayinya meninggal dalam beberapa jam setelah dilahirkan, dan ibunya menyusul beberapa bulan kemudian.

CLEOPATRA

Cleopatra memiliki hubungan dengan tiga laki-laki dalam hidupnya, dan mereka semua dimanfaatkan untuk menopang kekuatannya. Walau yang paling terkenal adalah hubungannya dengan Julius Caesar dan Mark Antony, pernikahan pertamanya justru terjadi dengan saudara laki-lakinya sendiri.

Ratu Mesir ini adalah keturunan terakhir dalam garis panjang penguasa etnis Yunani yang disebut Ptolemies. Untuk mempertahankan kekuasaan di dalam keluarga, menjadi hal yang normal dalam dinasti itu untuk menikahi saudara dekat, termasuk saudara kandung laki-laki dengan saudara kandung perempuannya.

Saat ayah Cleopatra, Ptolemy XII meninggal pada tahun 55 SM, wasiatnya meminta Cleopatra untuk menikahi saudara laki-lakinya yang berusia 10 tahun dan berbagi takhta dengannya.

Walau mereka menikah, mereka tidak pernah berhubungan badan. Faktanya, Ptolemy XIII dan para penasihatnya menolak untuk mengakui dia sebagai wakil penguasa, dan Cleopatra terpaksa melarikan diri.