Pariwisata bertema hewan memiliki banyak manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat. Bagi para pengunjung, wisata macam ini membantu menghilangkan rasa penat mereka sambil menumbuhkan kecintaan terhadap hewan. Sementara bagi pengelola dan warga sekitar, mereka bisa mendapatkan pemasukan dari para turis tadi.

Walau memiliki dampak positif, pariwisata bertema hewan juga memiliki dampak negatifnya sendiri lantaran tidak jarang turis yang berkunjung menunjukkan sikap dan tindakan yang kurang terpuji. Saat tindakannya sudah melampaui batas, tidak jarang hewan yang ada di lokasi lantas menjadi tumbalnya. Berikut beberapa kasus di mana hewan-hewan mati akibat ulah wisatawan dan pengunjung.

BAYI BISON

Peristiwa ini dijadikan contoh mengenai bagaimana niat baik dapat membawa dampak buruk, jika tidak diikuti dengan bekal pengetahuan yang memadai. Pada bulan Mei 2016, seorang pria sedang mengendarai mobil di Taman Nasional Yellowstone dengan ditemani oleh anaknya.

Saat mereka sedang berkendara santai, mendadak mereka berpapasan dengan bayi bison yang terlihat seperti sedang sakit. Khawatir bayi bison tersebut akan mati, sang pria pun nekat memasukkan bayi bison tersebut ke dalam mobil walau sudah diperingatkan oleh pengunjung taman yang lain.

Sang ayah dan anak tadi kemudian berkendara menuju pos penjaga hutan terdekat. Mereka kemudian memberitahu kalau di dalam mobil mereka, terdapat bayi bison yang nampaknya sedang sekarat dan harus diselamatkan.

Kendati niat sang ayah terkesan mulia, namun tindakannya ternyata justru malah membahayakan kelangsungan hidup sang bayi bison. Pasalnya karena bayinya sempat dibawa oleh manusia, induk bison tersebut tidak mau lagi mengakui bayi bison tadi sebagai anaknya.

Pada akhirnya, keputusan berat terpaksa harus diambil oleh penjaga hutan. Karena bayi bison tersebut kini malah membahayakan para pengunjung taman yang melintas, bayi bison tersebut terpaksa disuntik mati.

BAYI LUMBA-LUMBA

Selfie merupakan kegiatan mengambil foto diri sendiri di depan suatu pemandangan. Selama beberapa tahun terakhir, selfie menjadi kegiatan yang kian populer bagi mereka yang gemar berlibur dan aktif di media sosial. Sayangnya, meningkatnya minat orang untuk melakukan selfie seringkali tidak diikuti dengan meningkatnya kedewesaan mereka.

Kasus tersebut pernah terjadi pada bulan Februari 2016. Pada awalnya, seekor bayi lumba-lumba dari spesies langka La Plata menampakkan diri di tepi pantai kota Santa Teresita, Argentina. Melihat ada bayi lumba-lumba di dekatnya, para pengunjung beramai-ramai mendekati bayi lumba-lumba itu.

Namun mereka masih belum puas dengan hanya melihat bayi lumba-lumba tersebut dari dekat, kemudian mereka nekat mengangkatnya keluar air dan bahkan berfoto di depannya. Lalu bukannya langsung mengembalikan lumba-lumba malang tersebut ke dalam air, bayi lumba-lumba tersebut justru dioper ke sana kemari.

Saat orang-orang sudah selesai bermain-main dengan bayi lumba-lumba tersebut, mereka langsung meninggalkan hewan malang tersebut di atas lumpur. Padahal paus dan lumba-lumba tidak bisa berada di luar air terlalu lama, karena mereka mudah mengalami dehidrasi jika berada di luar air.

Akibatnya, bayi lumba-lumba itupun kemudian mati. Saat video peristiwa ini beredar luas di internet, netizen beramai-ramai mengecam tindakan para pengunjung pantai yang bermain-main dengan hewan hanya untuk kepuasan diri mereka sendiri.

La Plata adalah lumba-lumba yang hanya ditemukan di Brazil, Argentina, dan Uruguay. Habitat asli lumba-lumba ini berada di sungai, namun mereka juga bisa hidup di laut. La Plata merupakan spesies lumba-lumba yang sekarang terancam punah, dan diperkirakan populasi mereka saat ini tinggal 30.000 ekor.

BURUNG MERAK

Taman Satwa Liar Yunnan adalah sebuah kebun binatang raksasa dengan luas 187 hektar dan berada di kota Kunming, Cina barat daya. Di dalamnya, ada lebih dari 10.000 hewan liar yang berasal dari lebih dari 200 spesies berbeda. Mulai dari panda, singa, gajah, hingga merak.

Walau kebun binatang ini nampak begitu megah, sayangnya tidak semua pengunjung bersikap bijak saat berkunjung di dalamnya. Kasus yang terjadi pada bulan Februari 2016 adalah contohnya.

Semuanya berawal saat sejumlah pengunjung kebun binatang memasuki kandang merak, dan kemudian menggendong merak tersebut untuk berfoto bersamanya. Namun tindakan mereka belum sebatas sampai di sana, bahkan mereka memegang merak tersebut dengan kasar dan mencabuti bulunya.

Pengunjung di kebun binatang ini sebenarnya tidak diperbolehkan menyentuh hewan. Namun karena saat itu tidak ada petugas di tempat, para pengunjung tadi lantas bertindak seenaknya. Saat petugas tiba di kandang, merak tersebut mati akibat stress. Pihak kebun binatang menyangkan insiden ini dan tidak menduga bakal mengalami insiden macam ini, karena mereka belum pernah mengalami insiden demikian sebelumnya.

GAJAH

Gajah Asia merupakan salah satu hewan darat terbesar di dunia. Karena memiliki ukuran yang besar, gajah pun memiliki tenaga yang kuat dan dapat menggendong manusia dewasa. Namun, kuat bukan berarti gajah memiliki kekuatan tanpa batas. Di Kamboja, seekor gajah harus mati akibat bekerja terlalu keras.

Gajah merupakan hewan yang banyak ditemukan di Kamboja, dan sebagian di antara mereka bahkan dimanfaatkan sebagai hewan pengangkut turis di kawasan candi setempat. Sambo adalah salah satu di antaranya, gajah betina yang sudah bekerja di sektor pariwisata Kamboja sejak tahun 2001.

Hidup Sambo sayangnya harus berakhir secara naas, setelah gajah betina tersebut mendadak mati saat sedang mengangkut sepasang turis di sekitar Candi Angkor. Pemeriksaan pada Sambo menunjukkan, bahwa Sambo mati akibat serangan jantung. Menurut pakar, Sambo yang saat itu sudah berusia 40 tahun lebih mungkin mati akibat pengaruh iklim panas dan kelelahan.

Kematian Sambo tersebut lantas menuai banjir kecaman. Di situs Change.org, sebuah petisi sampai dibuat supaya praktik menggunakan gajah sebagai hewan angkut di Kamboja segera dihentikan. Menurut aktivis, praktik menggunakan gajah sebagai hewan tunggangan turis adalah bentuk kekejaman terhadap gajah dan hanya membawa sedikit manfaat bagi para pegiat di sektor pariwisata.

GORILA

Harambe adalah gorila yang lahir pada tahun 1999 di Kebun Binatang Gladys Porter, Texas, AS. Sejak tahun 2014, Harambe dipindahkan ke Kebun Binatang Cincinnati, Ohio, agar dapat bergaul dengan gorila lainnya.

Sayangnya, rumah baru Harambe tersebut sekaligus menjadi tempat di mana ia meregang nyawa. Semuanya berawal pada tanggal 28 Mei 2016, saat ada seorang anak berusia 3 tahun terjatuh ke kandang gorila. Harambe kemudian mendekati bocah tadi dan terlihat menunjukkan perilaku mengancam.

Karena petugas merasa khawatir akan keselamatan sang anak, petugas terpaksa menembak mati Harambe. Momen tersebut turut direkam oleh seorang pengunjung kebun binatang yang sedang berada di lokasi.

Begitu video tersebut beredar di dunia maya, peristiwa kematian Harambe lantas menjadi viral. Netizen beramai-ramai menunjukkan sikap duka cita atas kematian Harambe, dan mengkritik tindakan pihak kebun binatang yang lebih memilih untuk membunuh Harambe. Namun pihak kebun binatang menegaskan, bahwa tindakan tersebut terpaksa diambil demi keselamatan bocah tadi.

Netizen juga meluapkan kemarahannya kepada Michelle Gregg, ibu dari anak yang terjatuh ke dalam kandang Harambe, karena ia dianggap ceroboh dan bertanggung jawab secara tidak langsung atas kematian Harambe. Saat jumlah orang yang menghujatnya kian banyak, Michelle terpaksa menghapus akun Facebook miliknya.