Kasus Pencurian Barang Yang Tidak Lazim

Mencuri merupakan tindakan mengambil barang milik orang lain tanpa izin pemiliknya, dan ada begitu banyak kasus pencurian yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia. Mulai dari barang-barang yang bersifat umum dan memang banyak dibutuhkan semisal uang atau makanan, hingga barang-barang yang sifatnya tidak lazim. Berikut beberapa kasus pencurian yang tergolong aneh, karena barang yang dicuri bukanlah barang yang lazim menjadi sasaran pencurian.
BULU BURUNG
Edwin Rist adalah seorang pria kelahiran AS yang pindah ke Inggris untuk bergabung dengan akademi musik setempat. Kebetulan Rist memang memiliki kecintaan akan music, dan diketahui mahir memainkan alat musik biola serta seruling. Namun di balik minatnya yang terkesan normal tersebut, Rist juga memendam obsesi tersendiri akan bulu burung.
Ketertarikan Rist terhadap bulu burung sendiri berawal saat masa kecil, ia sering melihat orang-orang memasang bulu burung pada bagian ujung tali pancingnya. Sejak itulah, Rist pun menjadi tergila-gila akan bulu burung. Obsesinya ini pulalah yang membuatnya harus berurusan dengan pihak berwajib.
Pada tahun 2009, Rist pergi ke kota Tring di Inggris untuk berkunjung ke Museum Sejarah Nasional yang berada di kota tersebut. Di museum ini, terdapat koleksi bulu burung yang berasal dari beragam jenis burung langka serta eksotik di seluruh dunia. Secara diam-diam, Rist berhasil mencuri hampir 300 kulit serta bulu burung dan kemudian menjualnya secara online.
Tindakan Rist akhirnya terendus pihak berwajib, dan kemudian melakukan penangkapan kepadanya. Hakim yang menangani kasus Rist lantas menjatuhkan vonis hukuman 1 tahun penjara kepadanya. Namun jika Rist bersedia membayar uang ganti rugi senilai 2 milyar rupiah sebagai kompensasi atas bulu-bulu curian yang dijualnya, Rist tidak perlu menjalani hukuman penjaranya.
GLETSER
Gletser adalah sebutan untuk es berstruktur kental yang hanya dapat ditemukan di kawasan kutub dan sekitarnya. Di alam liar, gletser sering ditemukan dalam wujud sungai gletser yang mengalir lambat ke laut. Pesona yang ditunjukkan oleh gletser di lain pihak menjadikan benda ini sempat menjadi sasaran pencurian yang cukup spektakuler.
Pada tahun 2012 lalu, seorang pria asal Chili nekat mencuri gletser yang terdapat di Patagonia, wilayah yang terletak di ujung selatan Benua Amerika. Tidak tanggung-tanggung, gletser yang dicuri jumlahnya mencapai 5 ton. Gletser sebanyak itu dicuri dari Gletser Jorge Montt dan dipindahkan dengan memakai truk berpendingin.
Tindakan pria tersebut akhirnya ketahuan, setelah petugas lembaga kehutanan Chili menemukan ada yang tidak beres pada gletser di Patagonia. Maka, mereka pun kemudian segera menghubungi polisi. Polisi yang menerima laporan kemudian bergerak cepat dan berhasil menangkap pelaku beserta truknya di Cochrane.
Berdasarkan pemeriksaan, pelaku diketahui nekat mencuri gletser dalam jumlah besar karena ia berniat menjualnya ke kedai dan restoran mewah di ibukota Santiago. Rencananya, gletser tersebut akan dipotong-potong menjadi kubus kecil dan disajikan dalam minuman. Jika pelaku sampai berhasil menjual semua gletser tersebut, ia diperkirakan akan mengantongi keuntungan hingga ratusan juta rupiah.
KOTORAN ANJING
Kasus pencurian yang terjadi pada tahun 2015 di Des Moines, AS ini dapat dibilang sebagai kasus pencurian yang lucu dan berunsur ketidaksengajaan. Pada awalnya, seorang warga setempat memarkir truk miliknya di depan halaman rumahnya. Saat ia sedang terlelap pada dini hari, seseorang yang identitasnya tidak jelas mencoba mencuri truk tersebut dengan cara membongkar pintu sampingnya.
Ia memang berhasil memasuki ruang kemudi truk, namun ia gagal membawa truk yang sama. Entah karena ia tidak mau pulang dengan tangan kosong atau karena ada sebab lain, maling tersebut mengambil kantong plastik berisi kotoran anjing yang ada di bagian bawah truk. Maling tersebut kemudian pergi bersama kotoran anjing tadi sebelum sang pemilik truk terbangun.
Saat pemilik truk akhirnya tahu kalau ada yang membobol truk miliknya, ia melaporkan peristiwa tersebut kepada polisi. Walau tidak ada barang bernilai tinggi yang berhasil dibawa kabur oleh sang maling, kasus ini tetap menarik perhatian polisi mengingat barang yang dicuri justru adalah barang yang normalnya dianggap sampah oleh orang lain.
PASIR PANTAI
Membawa pulang pasir pantai sepintas tidak terdengar sebagai hal yang aneh, terutama jika pasir yang dibawa berasal dari pantai yang terkenal dan mungkin tidak akan bisa dikunjungi kembali di lain kesempatan. Namun kasus yang terjadi di Jamaika ini bisa dibilang sudah melampaui batas, pasalnya pasir pantai yang dibawa jumlahnya mencapai bertruk-truk.
Kejadian tersebut terjadi di Pantai Coral Spring pada bulan Juli 2008 lalu. Tidak tanggung-tanggung, jumlah pasir yang dicuri jumlahnya mencapai 500 truk. Karena peristiwa tersebut terjadi pada musim liburan di musim panas, peristiwa tersebut disaksikan oleh banyak orang yang sedang berada di pantai. Namun, mereka hanya bisa terpana menyaksikan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Walaupun peristiwa tersebut disaksikan oleh banyak orang, polisi memerlukan waktu hingga berbulan-bulan untuk memecahkan kasus ini. Polisi lantas berkesimpulan, bahwa pasir-pasir tersebut dicuri untuk dijual ke pantai lain. Polisi juga menangkap 5 orang terkait kasus ini, namun mereka semua pada akhirnya tidak dijatuhi hukuman karena saksi kunci menolak untuk bicara setelah ia mendapat ancaman pembunuhan.
Kasus pencurian pasir pantai mungkin bagi kita terdengar aneh sekaligus tidak logis, mengingat pasir merupakan komponen yang dapat ditemukan di banyak pantai. Namun kenyataannya, pasir pantai sekarang termasuk komoditas yang banyak diperdagangkan secara ilegal. Pasalnya sebagai akibat dari kerusakan lingkungan, jumlah pasir berkualitas baik yang ada di pantai semakin menipis.
RUMAH
Jika ada kasus kejahatan yang melibatkan rumah, maka biasanya kasus kejahatan yang terjadi adalah pencuri memasuki rumah dan mengambil barang-barang berharga yang tersimpan di dalam rumah. Namun, pernah terjadi justru yang dicuri adalah rumah itu sendiri.
Keluarga Hempel adalah keluarga yang berasal dari Spokane, Washington, AS. Walau kediaman sehari-hari mereka berlokasi di Spokane, keluarga Hampel juga memiliki rumah lain di kawasan pelosok Stevens untuk berlibur saat mereka ingin menjauh dari hiruk pikuk perkotaan.
Hal itulah yang pada awalnya ingin dilakukan oleh keluarga Hampel saat pergi ke Stevens pada tahun 2015. Namun setibanya mereka di sana, mereka menemukan hal yang sama sekali tidak mereka duga. Rumah kecil mereka sudah tidak nampak lagi di tempatnya, seolah-olah ada raksasa yang baru saja menggondol rumah mereka.
Menurut seorang tetangga yang menjadi saksi mata peristiwa pencurian ini, pencuri menjalankan aksinya dengan cara menarik rumah memakai kereta gandeng. Walau memindahkan rumah jelas bukanlah pemandangan yang normal, sang tetangga pada awalnya tidak menunjukkan rasa curiga berlebihan karena ia mengira kalau yang membawa rumah tersebut adalah pemilik rumah yang lama.
Berkat informasi yang didapat oleh polisi via telepon, polisi berhasil menemukan rumah yang dicuri hanya sehari sesudah menerima laporan. Uniknya, saat dimintai pendapatnya mengenai kasus ini, Sheriff Kendle Allen tidak menunjukkan rasa takjub berlebihan. Pasalnya, menurut pengakuannya kasus rumah yang dicuri dan dipindahkan ke tempat lain ternyata bukan sekali ini saja terjadi di daerah tersebut.
