Sebagai salah satu lembaga Inteligen di Dunia, CIA memiliki sarana, dana serta anggota dalam jumlah besar yang tersebar diseluruh dunia. CIA seharusnya dapat meminimalisir kesalahan yang mereka buat, khususnya dalam menangkap tersangka kasus kriminal. Namun nyatanya, lembaga Inteligen yang konon mengawasi seluruh negara di dunia ini sering kali membuat kesalahan saat menangkap orang.

Parahnya lagi jumlah kasus salah tangkap ini terbilang cukup banyak, dengan korban yang harus menjalani hukuman penjara hingga bertahun-tahun, bahkan ada yang sampai di hukum mati. Hal ini tentu menyalahi aturan paling dasar dari Hukum yang mengutamakan “asas praduga tak bersalah.” Dalam hukum pidana bahkan ada sebuah adagium yang menyebutkan: “lebih baik membebaskan seribu orang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah.”

Menghukum orang yang tidak bersalah merupakan hal yang paling mengerikan, apalagi jika itu hanya karena alasan yang sepele. Berikut beberapa kasus salah tangkap yang pernah dilakukan CIA.

EMAD HASSAN

Pada tahun 2002 yang lalu, seorang pria Yaman bernama Emad Hassan yang tengah kuliah di Pakistan harus menghadai mimpi buruknya karena menyebutkan kota kelahiranya. Saat itu CIA tengah getol mencari teroris di Pakistan, karena menggangap negara tetangga India ini sebagai basis transit bagi para teroris, melakukan beberapa pemeriksaan terhadap mahasiswa luar negeri yang kuliah di Pakistan.

Salah satunya adalah Emad Hassan, saat diperiksa Emad ditanyai tentang hubunganya dengan Al Qaeda dan apa ia tahu tentang kelompok teroris ini. Namun akibat penyebutan kata yang buruk dari petugas CIA, bukanyan mendengar kata Al Qaeda yang terdengar di telinga Hassan justru Al Qaidah yang ternyata merupakan kota kelahirannya. Mendengar pertanyaan ini, Hassan selalu mengangguk dan menjawab ia mengetahuinya.

Akibat kesalahan kecil ini, Hassan langsung di jebloskan ke Guantanami dan dipenjara hingga 13 tahun. Pada tahun 2015 setelah ada seorang pengacara yang mau membelanya, Hassan berhasil bebas setelah pengacara yang membelanya memberikan data dari  Google Maps yang mencantumkan kota Al Qaidah yang ada di Yaman.

JACK ALDERMAN

Membuat seorang tersangka kejahatan untuk mengaku bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu kadang ada beberapa okmun melakukan perjanjian rahasia dengan tersangka agar mau mengaku dengan iming-ming pengurangan hukuman. Hal ini sebenarnya menyalahi hukum, namun cukup sering dilakukan agar sebuah kasus cepat selesai. Sayangnya, tidak jarang perjanjian ini justru menyeret orang tidak bersalah ke jeruji besi bahkan hingga tiang gantungan.

Seperti yang terjadi pada Jack Alderman, pria tidak bersalah ini harus mendapat cap sebagai predator dan mendapat hukuman mati pada tahun 2008 lalu setelah dituduh membunuh istri dan anaknya. Padahal dari bukti forensik yang ada di TKP dan dugaan motif, semuanya sama sekali tidak ada yang menunjukan Jack membunuh keluarganya.

Jack harus menjadi pesakitan justru, karena kesaksian tersangka yang sebenarnya yaitu John Brown. Lelaki yang membunuh keluarga Jack ini dikenal sebagai pedofil yang telah melakukan serangan seksual terhadap anak-anak dan wanita. Brown yang awalnya sudah mengaku membunuh keluarga Jack tiba-tiba mengubah kesaksianya dengan mengaku, bahwa Jack yang mengajaknya untuk membunuh.

Berubahnya kesaksian Brown ini ternyata merupakan hasil perjanjian yang dilakukan oleh seorang jaksa penuntut dan CIA semasa masa penahanan untuk mempercepat penyidikan. Saat itu Brown ditawari untuk mengaku dengan iming-iming pengurangan hukuman, namun siapa sangka jika pria ini justru mengelabui Jaksa dan CIA dengan berbalik menuduh Jack. Dengan perjanjian ini Brown akhirnya hanya di mendapat hukuman selama 12 tahun, sedangkan Jack yang tidak bersalah justru dijatuhi hukuman mati.

Kebenaran ini akhirnya terkuak, setelah Brown yang terus melakukan kejahatan seksual setelah bebas dari penjara kembali tertangkap. Pria bejat ini kemudian mengakui segala konspirasi yang ia lakukan pada Jack dalam pengadilan, tapi sayangnya hal ini sudah terlambat karena Jack Aldeman sudah lebih dulu dieksekusi mati menggunakan suntikan oleh negara bagian Georgia, pada tahun 2008.

KHALED EL-MASRI

Dengan jumlah penduduk dunia yang mencapai milyaran, bukan hal aneh jika ada satu atau dua orang dengan nama yang sama. Tapi apa yang di alami oleh turis asal Jerman bernama Khaled El-Masri ini dapat dibilang merupakan kesialan yang luar biasa.

Tanpa ia ketahui, ternyata namanya sama dengan seorang teroris berbahaya yang sedang diburu CIA. Alhasil saat El-Masri tengah berlibur di Makedonia pada tahun 2003 yang lalu, El-Masri tiba-tiba di tahan oleh polisi rahasia dan diperiksa selama kurun waktu 23 hari. Walau El-Masri terus menyangkal bahwa dirinya adalah teroris, ia kemudian justru diserahkan pada CIA yang kemudian menyiksanya. Oleh CIA El-Masri diterbangkan ke Afganistan untuk dimasukan ke penjara rahasia, dimana ia harus mengalami pengalaman mengerikan diperkosa berkali-kali oleh sipir.

Baru setelah 4 bulan, CIA menyadari kekeliruan mereka yang telah menangkap seorang wisatawan yang tidak bersalah. Namun bukanya meminta maaf, CIA justru menerbangkan El-Masri ke Albania yang menurunkanya di sebuah jalan sepi dan meninggalkanya begitu saja.

Beberapa tahun kemudian El-Masri menuntut pemerintah Makedonia dan CIA atas pengalaman mengerikan yang harus ia alami, namun hingga saat ini El-Masri tetap tidak mendapatkan permintaan maaf baik CIA maupun Pemerintah Makedonia.

MEDHANIE TESFAMARIAM BERHE

Medhanie Yehdego Mered merupakan salah satu penyelundup manusia kelas kakap yang beroperasi di Laut Tengah, Mered merupakan orang dibalik tewasnya 360 migran di lepas pantai Italia pada tahun 2013 lalu setelah kapal yang digunakan untuk meyelundupkan mereka tenggelam. Sejak peristiwa ini Mered menjadi salah satu buron paling dicari di Italia, dan dengan bantuan CIA oada tahun 2016 yang lalu mereka mengumumkan telah berhasil menangkap Mared di Eritrea.

Namun sayangnya tersangka yang mereka terbangkan langsung dari Eritea ini ternyata bukanlah Mered, melainkan seorang buruh tani yang bernama Medhanie Tesfamariam Berhe. Kesalahan ini baru mereka sadari setelah istri Mered sama sekali tidak mengenali pria yang baru saja di bawa ke Italia tersebut. Parahnya lagi setelah dinyatakan tertangkap ternyata akun Facebook milik Mered terus menampilkan foto dirinya sedang berpesta pora, padahal ia sedang ditahan.

Ternyata pihak CIA melakukan kesalahan saat tidak dapat membedakan muka dari Mered dan Berhe, lalu memutuskan untuk melakukan tes suara para Berhe. Dari tes suara inilah, kemudian mereka mengambil keputusan bahwa Berhe adalah Mered.

MOHAMMAD AL-GHARANI

Setelah peristiwa serangan 11 September, Amerika dilanda Paranoid berlebihan terhadap orang beretnis Arab. Puluhan bahkan ratusan kasus salah tangkap mulai terjadi akibat stigma yang muncul terhadap kaum muslim yang saat itu dianggap sebagai teroris. Banyak pihak yang berusaha memahami kesalahan CIA ini, namun sebelum masa ini nyatanya CIA telah melakukan beberapa kasus salah tangkap yang merenggut hidup banyak orang, bahkan menghancurkan masa depan mereka.

Salah satunya terjadi pada Mohammed Al-Gharani, seorang remaja yang di tangkap CIA saat masih berusia 14 tahun di Pakistan pada tahun 1999 yang lalu. Remaja ditangkap dan harus menjalani hukuman penjara selama 11 tahun di penjara Guantanamo, karena salah paham soal kata yang ia ucapkan.

Kisah miris ini berawal saat Gharani yang sedang belajar bahasa Inggris dan komputer di Pakistan ingin pulang ke Arab untuk bertemu orang tuanya. Saat melewati sebuah pos pemeriksaan di bandara ia ditanyai oleh seorang petugas apa saja yang ia bawa di tasnya, Gharani kemudian menyebutkan beberapa barang termasuk Zalat. Saat mendengar kata ini, petugas tadi kemudian memanggil salah satu penterjemah CIA karena tidak memahani apa yang di maksud Gharani.

Sialnya penterjemah ini ternyata memiliki logat yang berbeda dengan Gharani, penterjemah itu ternyata hanya memahami bahasa Arab dengan dialek Yaman, sedangkan Gharani menggunakan bahasa Arab dengan dialek Saudi. Dalam dialek Yaman Zalat berarti uang, sedangkan apa yang dikatakan Gharani sebenarnya adalah Tomat yang dalam dialek saudi disebut Zalat.

Akibat kesalahan kecil ini, Gharani oleh CIA dikira sebagai pejabat keuangan Al Qaeda dan langsung dimasukan ke penjara tanpa melalui proses peradilan. Kasus ini kemudian dikenal sebagai Teroris Salad, karena seorang warga tidak bersalah harus mendekam di penjara lantaram menyebutkan Tomat yang merupakan salah satu sayuran dalam salad.