Dunia sempat dihebohkan dengan fenomena langit berwarna pink ungu yang terjadi di Jepang. Meski terlihat cantik, namun hal tersebut merupakan pertanda akan ada bencana topan yang mengerikan. Diketahui bahwa fenomena langit tersebut merupakan tanda akan terjadi Topan Hagibis yang berarti cepat dalam bahasa Filipina.

Bencana Topan Hagibis diprediksi akan mengacaukan daerah Nagoya, Jepang. Kejadian ini menjadi peristiwa terparah di Jepang sejak tahun 1958 silam. Langit pink ungu di Jepang menyembunyikan bencana besar yang harus diwaspadai. Bencana Topan Hagibis diperkirakan akan memiliki kecepatan hingga 160 km/jam pada titik pusatnya. Topan Hagibis itu diyakini bisa membawa rekor curah hujan dan angin.

Badan Meteorologi Jepang memperingatkan bahwa Typhoon Hagibis kali ini bisa menjadi topan yang kekuatannya sekuat topan Kanogawa yang pernah melanda Prefektur Shizouka dan wilayah Tokyo pada tahun 1958 silam. Menurut data dari New York Times, topan Kanogawa di tahun 1958 silam itu telah memakan korban lebih dari 1.200 orang. Mengetahui akan hal tersebut, pemerintah Jepang menghimbau semua warga yang tinggal di lokasi yang terdampak untuk segera mengungsi ke tempat yang aman.

Warga pun mempersiapkan segalanya, tidak terkecuali dengan bahan makanan yang dibutuhkan selama mengungsi. Warga Jepang, khususnya di daerah sekitar pulau utama Honshu sedang mempersiapkan diri untuk dihantam dengan kemungkinan badai besar dalam lebih dari 60 tahun. Hal ini bisa terlihat dari rak makanan di supermarket yang kosong sejak muncul fenomena langit berwarna pink ungu. Selain mewajibkan para warga untuk mengungsi, bencana Topan Hagibis juga berpengaruh terhadap jalannya berbagai event di Jepang.

Fenomena langit berwarna pink ungu di Jepang diketahui sebagai fenomena scattering. Penampakan ini muncul terlebih dahulu sebelum datangnya badai. Fenomena scattering ini sendiri terjadi ketika molekul dan partikel kecil yang ada di atmosfer mempengaruhi arah cahaya. Kondisi tersebut membuat pantulan cahayanya tersebar.

Datangnya badai besar yang diikuti dengan hujan deras bisa menghanyutkan partikel yang ukurannya lebih besar dengan kemampuan menyerap cahaya lebih baik. Panjang gelombangnya pun bisa tersebar secara lebih merata dengan hasil berupa rona redam yang keluar dari udara. Hal tersebut membuat warna langit menjadi semakin cerah dan tajam.

Salah seorang pakar meteorologi yang bernama Lauren Rautenkranz menjelaskan, bahwa fenomena langit berwarna pink ungu di Jepang tersebut juga pernah terlihat di Florida, Amerika Serikat pada tahun 2018 setelah terjadi Badai Michael.

Dijelaskan pula, bahwa cahaya Matahari yang menyinari Bumi memiliki warna spektrum, dimana sebagian besar warnanya bisa sampai ke permukaan Bumi tanpa hambatan. Hanya saja, panjang gelombang yang lebih pendek, yakni warna biru dan ungu tersebar di setiap arah. Seperti yang diketahui, dari spektrum warna, ungu adalah panjang gelombang terpendek.

Dengan alasan tersebut, mata manusia biasa tidak bisa melihatnya. Warna biru hanya bisa dideteksi oleh mata manusia di langit. Perlu diketahui, warna ungu menjadi pengantar ketika badai dahsyat melanda. Dalam kondisi ini, udaranya menjadi sangat jenuh.

Tidak hanya itu, awan juga menjadi lebih dekat dengan tanah, titik embunnya juga menjadi sangat tinggi. Maka dari itu, jangan anggap sepele tanda bencana yang ditunjukkan di langit. Lain halnya jika badai berlangsung saat Matahari terbit atau terbenam, fenomena tersebut akan memunculkan warna langit yang sebenarnya.

Langit di Jepang telah menunjukkan beberapa perubahan juga, yaitu dengan perubahan warna menjadi ungu, fenomena tersebut disebut hamburan. Menurut Science Daily, hamburan terjadi ketika molekul dan partikel kecil di atmosfer mempengaruhi arah cahaya yang menyebabkan cahaya tersebar. Panjang gelombang cahaya dan ukuran partikel yang akan menentukan warna langit.