Kecelakaan di laut seringkali dianggap sebagai kecelakaan besar yang mematikan. Kondisi terapung-apung di tengah samudera atau tenggelam menjadi ancaman yang tidak main-main, bahkan tidak banyak orang yang bisa bertahan hidup saat mengalaminya. Namun, secara Ajaib ada orang-orang yang berhasil selamat dari kecelakaan laut. Berikut orang-orang yang berhasil selamat dari kecelakaan di lautan.

Robert Drury
Drury adalah seorang pelaut Inggris di The Degrave pada tahun 1703. Setelah kapalnya rusak, awak kapal termasuk Drury terpaksa meninggalkannya di dekat Madagaskar. Namun, berhasil mencapai pantai adalah awal dari masalah Drury.

Drury dan seluruh kru menghabiskan empat hari pertama mereka di Madagaskar untuk menghindari sekitar 2.000 prajurit Tandroy. Saat Tandroy akhirnya menangkap kru, mereka mengeksekusi setiap orang namun Drury dan tiga anak laki-laki lainnya dibiarkan hidup dan diperbudak . Drury menghabiskan delapan tahun sebagai pelayan kerajaan dan bekerja cukup keras untuk mendapatkan rasa hormat, hinggs akhirnya bertempur bersama para penculiknya dari Tandroy. Hasilnya, Tandroy akhirnya memberi Drury sedikit kebebasan, dan ia diizinkan untuk menikahi sesama tawanan dan memelihara ternaknya sendiri.

Setelah hampir 15 tahun menjadi budak, Drury melarikan diri dari Madagaskar sendirian dengan kapal budak Inggris. Istri Drury menolak untuk pergi, karena takut pada mitos Tandroy yang menjanjikan kematian yang tidak wajar bagi budak mana pun yang melarikan diri. Drury berjuang untuk mendapatkan tempat di masyarakat Inggris, dan dalam suatu kejadian aneh ia benar-benar kembali ke Afrika namun sebagai seorang budak .

Robert Jeffrey

Robert Jeffery adalah seorang pelaut muda di Royal Navy pada tahun 1807. Saat berada di atas HMS Recruit , ia mencuri segelas bir tambahan. Kaptennya, yang mungkin juga sedang mabuk, menanggapi pelanggaran itu dengan membuang anak muda berusia 18 tahun itu di pulau berikutnya yang dilewati kapal. Jeffery ditinggalkan di sebuah bongkahan batu tanpa makanan dan air saat awak kapal memohon kapten mereka untuk mempertimbangkan kembali.

Publik marah dengan perilaku Kapten dan pengadilan militer pun digelar. Pada tahun 1810, Robert Jeffery yang hilang ditemukan tinggal di Massachusetts bekerja sebagai pandai besi hingga kemarahan publik kembali meledak. Ibu Jeffery masih hidup dan sehat di Inggris, dan warga Inggris menuntut agar mereka dipersatukan kembali. Sebuah kapal Angkatan Laut Kerajaan dikirim dan publik menunggu dengan penuh harap untuk kepulangan kapal itu dan Jeffery.

Ketika Robert Jeffery tiba kembali di kampung halamannya di Inggris, lonceng gereja dan kerumunan orang menyambutnya. Pers dan publik menyaksikan ibu dan anak itu bersatu kembali dengan penuh kegembiraan. Publik membantu Robert Jeffery agar kapten yang telah menelantarkan Jeffery tiga tahun sebelumnya, ditemukan dan dipaksa membayar ganti rugi kepada mantan awak kapalnya karena hampir membunuhnya.

The Essex

Pada tahun 1819, The Essex meninggalkan Nantucket untuk melakukan ekspedisi perburuan paus yang diperkirakan berlangsung selama dua setengah tahun. Pada hari kedua pelayaran, badai yang kuat merusak kapal dan terancam tenggelam namun kapal tersebut diperbaiki dan terus melaju. Beberapa bulan kemudian dan ribuan mil dari daratan, seekor paus besar menabrak kapal tersebut. Saat awak kapal mulai menilai kerusakannya, paus tersebut menabrak kapal lagi hingga melubangi kapal sehingga para awak kapal buru-buru menurunkan perahu dan mengambil beberapa perbekalan.

Ke-20 orang itu, yang tersebar di tiga perahu, memutuskan untuk menuju ke selatan karena takut akan kanibal di daratan terdekat, Kepulauan Marquesas.

Dalam beberapa minggu, perahu-perahu itu bocor dan persediaan makanan habis. Orang pertama yang meninggal langsung dimakan, lalu tiga pelaut lainnya meninggal dan masing-masing dimasak dan dimakan. Salah satu dari tiga perahu menghilang, tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Dua perahu lainnya, yang satu dipimpin oleh Kapten Pollard dan yang lainnya dipimpin oleh First Mate Owen Chase, terpisah.

Setelah 89 hari di laut, tiga orang di kapal Chase diselamatkan oleh sebuah kapal Inggris. Di atas kapal Pollard, mereka melakukan undian dan sepupu Pollard yang lebih muda menjadi korban berikutnya, walau Pollard meminta untuk menggantikannya. Seminggu setelah Chase diselamatkan, sebuah kapal Amerika menemukan Pollard dan awak kapal lainnya sedang menggerogoti tulang-tulang rekan-rekan mereka.

The Peggy

Kapal layar Amerika The Peggy kembali ke New York pada tahun 1765 setelah berdagang di Azores. Selama hampir sepanjang bulan November, The Peggy berjuang untuk menyeberangi Atlantik saat badai demi badai menghantam kapal. Tiang, layar, dan tali-temali semuanya rusak. Kapal itu terombang-ambing dan lambungnya bocor parah. Beberapa perbekalan yang selamat dari badai dengan cepat habis saat kru bekerja mati-matian untuk menjaga The Peggy tetap mengapung. Jelas bahwa para awak The Peggy akan kelaparan jauh sebelum mencapai daratan, bahkan setelah kucing kapal terbunuh dan dimakan. Satu-satunya harapan mereka, yaitu kemungkinan kapal lain akan lewat di dekatnya.

Pembicaraan awal tentang kanibalisme di antara awak kapal dibungkam oleh kapten David Harrison, namun sia-sia. Pada pertengahan Januari, awak kapal telah memakan semua kulit dan lilin di atas kapal dengan Kapten Harrison yang terbaring di tempat tidur. Awak kapal terpaksa melakukan kanibalisme. Undian adat itu hanya rekayasa, dan awak kapal telah memutuskan bahwa pelayan kulit hitam Harrison harus menjadi orang yang melakukan pengorbanan terakhir.

Pada akhir Januari, jasad pembantu itu telah tiada dan sang kapten bertahan hidup dengan meminum campuran air dan rum daripada ikut serta dalam prosesi kanibalisme. Undian kedua diadakan, tetapi korban, David Flatt, diberi penangguhan hukuman satu malam untuk berdoa berkat permohonan Kapten Harrison yang kelelahan. Ajaibnya, sebuah kapal yang menuju London membawa keselamatan bagi semua orang di atas The Peggy keesokan paginya. Awak The Peggy telah menyiapkan api untuk memasak korban berikutnya saat kapten The Susan menyediakan makanan, peralatan, dan pengawalan ke London bagi para pelaut yang kelaparan.