Sepanjang sejarah, tulang telah digunakan dalam banyak cara. Para arkeolog yang menggali tulang menemukan cerita kuno. Tulang-tulang ini memberi tahu kita tentang peradaban kuno, adat istiadat mereka, dan bagaimana mereka hidup dan mati. Selain itu ada banyak kegunaan tulang sepanjang waktu yang dilakukan sejak dulu, dan beberapanya mungkin tidak pernah kita pikirkan.

Berikut kegunaan yang terduga dari tulang manusia dan hewan sepanjang sejarah.

PUPUK

Pada pertengahan tahun 1800-an, tepung tulang muncul sebagai pupuk yang populer. Saat itu, orang-orang di pedesaan di perbatasan Amerika mengumpulkan tulang kerbau untuk dijadikan pupuk. Mereka menggilingnya dan menggunakannya di dalam tanah, dengan demikian tulang-tulang dari hewan yang mati membantu mempertahankan kehidupan kritis di padang rumput. Namun, kebangkitan industri peternakan menyebabkan peralihan dari tulang kerbau ke tulang sapi sebelum tahun 1900.

Saat ini, tulang yang digunakan dalam pupuk sebagian besar berasal dari kerangka sapi yang digiling. Di beberapa tempat, tulang babi dan domba yang sudah lama mati juga dapat digunakan. Tersedia dalam dua bentuk, yaitu gilingan kasar dan gilingan halus. Penggilingan yang lebih halus melepaskan unsur hara ke dalam tanah lebih cepat. Karena tepung tulang kaya akan kalsium dan fosfor tetapi kekurangan nitrogen, tukang kebun sering kali melengkapinya dengan pupuk kandang yang kaya nitrogen untuk mencapai penerapan yang seimbang.

RAMALAN

Di Tiongkok kuno, orang menggunakan tulang kura-kura, lembu, dan kerbau untuk meramalkan masa depan. Mereka akan membersihkan tulang, menghaluskannya, dan membuat permukaan rata. Kemudian, mereka akan mengebor atau memahat deretan lubang ke dalam tulang. Panas diberikan hingga tulang retak, dan retakan tersebut dibaca untuk mengetahui jawabannya. “Para ahli” dari zaman tersebut kemudian akan menafsirkan jawaban dan memberikan nasihat kepada keluarga dan desa. Sayangnya, metode pasti untuk menafsirkan retakan tersebut masih belum diketahui.

Istilah “tulang oracle” umumnya digunakan untuk merujuk pada tulang dan cangkang dari Tiongkok kuno. Namun, penggunaan tulang belikat untuk memprediksi masa depan juga dapat ditemukan di tempat lain. Scapulimancy, demikian sebutannya, telah dipraktikkan di Jepang, Korea, Eropa, Afrika, dan Amerika Utara. Para petani di tempat-tempat seperti Yunani dan Serbia selama bertahun-tahun diketahui menggunakan scapulimancy. Keterampilan itu telah digunakan untuk mengetahui banyak hal. Kegunaannya termasuk menentukan pola cuaca, meramal, memprediksi masalah astrologi, dan banyak lagi.

RUMAH

Pada masa Paleolitik Muda di Eropa, nenek moyang kita (termasuk Neanderthal) cukup pandai dalam memanfaatkan apa yang ada di sekitar mereka. Mereka mengambil tulang dan gading mamut berbulu dan menjadikannya rumah primitif, tempat berlindung, dan penahan angin. Tulang-tulang ini diikat menjadi satu atau ditancapkan di tanah. Hebatnya, metode sederhana itu menghasilkan shelter yang kokoh dan tahan lama. Di Amerika Selatan, manusia purba juga menunjukkan kecerdikan mereka. Mereka menggunakan kembali cangkang Glyptodon, yang terlihat seperti armadillo raksasa, untuk perlindungan.

Seperti Neanderthal Eropa, mereka memiliki kemampuan yang mengesankan untuk beradaptasi dengan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara maksimal. Secara keseluruhan, fakta bahwa Neanderthal dan manusia purba menggunakan tulang mamut dan cangkang Glyptodon sebagai tempat berlindung memberi tahu banyak hal tentang kecerdikan dan kemampuan beradaptasi mereka. Ini memberi kita wawasan tentang kemampuan dan pencapaian teknologi mereka. Dan hal ini memberi mereka tempat berlindung yang aman dan cukup terjamin dibandingkan dengan tempat berlindung lainnya yang tersedia pada saat itu.

SENJATA

Di alam liar, tulang dapat dijadikan senjata. Dengan membuat pisau dari tulang kaki rusa yang hancur, seseorang dapat membuat alat yang cocok untuk menusuk. Ternyata, ada sejarah panjang mengenai penggunaan tulang sebagai senjata.

Dahulu kala, orang-orang Clovis di Amerika Utara prasejarah membuat proyektil runcing dari tulang atau kayu. Hebatnya, proyektil tulang yang tertanam telah ditemukan di tulang rusuk kerangka mastodon jantan. Tentu saja, ini menunjukkan keberhasilan serangan fatal menurut para arkeolog. Anehnya, tidak ditemukan tanda-tanda pertumbuhan kembali tulang di sekitar titik Clovis. Jadi para ahli yakin mastodon itu musnah segera setelah pertemuan itu. Namun, bukan hanya orang Clovis yang menggunakan tulang seperti itu. Suku Apache membuat pentungan dari tulang rahang kuda, rusa, kerbau, atau beruang.