Tradisi Unik Khas Bali Yang Masih Ada Hingga Kini

Bali memang sudah tidak asing sebagai tonggak utama pariwisata di Indonesia. Sebagai salah satu destinasi wisata dunia, Bali menawarkan objek wisata yang memanjakan wisatawan. Namun, tak hanya terkenal dengan destinasi populer, Bali juga mempunyai segudang tradisi yang masih dilestarikan hingga kini.
Selain mengunjungi objek wisata alam, kita juga dapat melihat tradisi lokal yang pastinya unik dan sayang untuk dilewatkan.
Berikut beberapa tradisi unik khas Bali yang masih ada hingga kini.
MAPEED ATAU MADEENG
Pemakaman pada umumnya menjadi momen yang menyedihkan dan diiringi dengan suasana berkabung. Namun, beda halnya dengan Pulau Dewata yang justru mengantarkan sang pendahulu dengan riasan anggun berbalut pakaian tradisional.
Tradisi ini dikenal dengan istilah “Mapeed” atau “Madeeng”. Mapeed adalah iring-iringan gadis-gadis Bali yang mengenakan pakaian adat disertai riasan wajah lengkap. Iringan ini dilakukan oleh keluarga mendiang, mulai dari anak kecil hingga remaja. Tradisi ini juga dilakukan pada upacara besar keagamaan sebagai bentuk rasa syukur.
MEGIBUNG
Magibung, adalah tradisi makan bersama yang dilakukan pada acara perayaan istimewa seperti pernikahan. Inti dari tradisi ini, yaitu sekelompok orang duduk melingkar dan makan dari satu wadah yang sama. Setiap daerah memiliki caranya masing-masing, ada yang menggunakan daun pisang, ada juga yang menggunakkan alas bambu sebagai alasnya.
MEKARE-KARE
Mekare-kare atau lebih dikenal dengan nama Perang Pandan merupakan rangkaian pelaksanaan Usaba Sambah. Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem.
Tradisi ini sebagai penghormatan yang dilakukan masyarakat Tenangan terhadap Dewa Indra atau Dewa Perang. Masyarakat setempat tidak mengenal kasta, dan menganggap Dewa Indra sebagai dewa dari segala dewa.
Tradisi Mekare-kare disebut sebagai Perang Pandan, karena menggunakan pandan berduri sebagai senjata. Selain itu, para peserta perang akan dibekali perisai sebagai perlindungan diri yang terbuat dari bahan rotan.
Tradisi ini biasa diikuti kaum laki-laki, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga orang tua. Setelah perang, setiap peserta yang mengalami luka akan diobati dengan ramuan tradisional dari parutan kunyit, lengkuas, dan minyak kelapa.
METATAH ATAU POTONG GIGI
Tradisi ini tidak hanya budaya namun juga terkait agama, Umat Hindu di Bali hingga kini masih memegang tradisi Metatah. Orang yang sudah siap menjalani tradisi metatah biasanya ditandai dengan perubahan suara pada pria, dan menstruasi pada wanita.
Tujuan upacara metatah adalah sebagai simbol untuk membersihkan keangkaramurkaan dan keserakahan dari diri seseorang. Masyarakat Bali percaya bahwa ada 6 jenis perbuatan tidak baik dalam diri manusia (sad ripu), yaitu kama (hawa nafsu), loba (tamak), mada (kemabukan), moha (kebingungan), krodha (kemarahan) dan matsarya (iri hati).
NGEDEBLAG
Ternyata Bali punya Haloween sendiri yang biasa disebut upacara Ngedeblag, tradisi pawai keliling desa ini dilakukan oleh pemuda pemudi yang berpakaian adat dan berdandan seram. Masyarakat desa sengaja berdandan seram sebagai simbol penolak bala, konon hal ini dilakukan karena seringnya terjadi bencana di desa. Jika ingin melihat, tradisi ini dapat ditemui di Desa Adat Penglipuran, Bangli.
Tradisi ini dilaksanakan tiga kali. Yaitu pada sasih kelima atau bulan kelima, kaenam (bulan keenam), dan kapitu (bulan ketujuh) dalam penanggalan Kalender Bali.
NYAKAN DIWANG
Nyakan Diwang merupakan salah satu tradisi unik dari Kecamatan Banjar, Buleleng. Tradisi Nyakan Diwang serangkaian hari raya Nyepi yang dilaksanakan dengan kegiatan nyakan (menanak nasi) di luar rumah atau pinggir jalan.
Tradisi ini telah dilaksanakan sebagai bentuk pembersihan rumah, khususnya penyepian dapur di masing-masing keluarga. Selain itu, Nyakan Diwang juga menjadi alat pemupuk kekerabatan antarwarga karena dibarengi tradisi saling mengunjungi tetangga.
Pelaksanaan tradisi Nyakan Diwang dilaksanakan serentak pada pukul 03.00 Wita, tanpa ada komando seluruh krama desa akan keluar rumah. Sedangkan, kunjungan atau silaturahmi ke tetangga akan dilaksanakan tepat pukul 04.00 Wita di sela-sela kegiatan menanak nasi.
OMED-OMEDAN
Omed-omedan tradisi Nyepi yang terkenal dari Banjar Kaja Sesetan, Denpasar Selatan. Tradisi ini terdiri dari peluk, cium, siram, dan saling tarik. Omed-omedan dilakukan oleh muda-mudi Banjar Kaja Sesetan yang bertujuan memperkuat rasa asah, asih, dan asuh antarwarga. Tradisi diawali dengan persembahyangan bersama di pura, lalu dilanjutkan pementasan Barong Bangkung Jantan dan Betina.
Dulu tradisi omed-omedan sempat dihentikan, namun terjadi kejadian aneh dua ekor babi berkelahi di depan pelantaran pura. Warga pun menganggap kejadian tersebut sebagai pertanda buruk, sehingga sejak saat itu tradisi omed-omedan kembali dilaksanakan hingga sekarang.
PERANG API
Di Pulau jawa ada Perang Ketupat, di Bali ada Perang Api. Tradisi ini umumnya dilakukan oleh para pemuda desa. Perang api, dapat kita lihat saat ada hari raya besar keagamaan, salah satunya Nyepi. Layaknya tradisi lain di Bali, Perang Api juga memiliki cara beragam. Ada yang menggunakan serabut kelapa, ada juga yang menggunakan daun kelapa kering yang dibuat obor. Pemandangan lautan merah menyala akan mewarnai desa saat Perang Api sedang dilakukan.
