Sebagai bangsa yang kaya akan keberagaman, Indonesia memiliki berbagai tradisi dan perayaan yang penuh makna dalam berbagai peristiwa penting dalam siklus hidup manusia. Salah satu bentuk tradisi yang berkaitan dengan siklus hidup manusia adalah tradisi menyambut kelahiran bayi.

Fase kelahiran bayi manusia dalam berbagai suku bangsa dianggap sebagai saat yang tepat untuk menunjukkan rasa syukur dan harapan baik di masa depan.

Beberapa daerah di Indonesia memiliki upacara khusus dalam rangka menyambut kelahiran bayi dalam sebuah keluarga.

Berikut beberapa tradisi untuk menyambut kelahiran bayi di Indonesia.

BROKOHAN (JAWA)

Tradisi Brokohan diselenggarakan sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran bayi dengan sehat dan selamat.

Nama brokohan diambil dari kosa kata bahasa Arab yaitu barokah yang artinya memohon berkah pada Tuhan atas kelahiran bayi sebagai buah hati dari kedua orang tuanya.

Upacara ini bertujuan sebagai upaya memohon keselamatan dan pelindungan untuk bayi yang baru saja dilahirkan ke dunia.

Pada acara ini biasanya dilakukan juga prosesi penguburan ari-ari bayi dan doa bersama untuk memohon keselamatan dan harapan baik bagi bayi tersebut.

JATAKARMA SAMSKARA (BALI)

Jatakarma samskara merupakan upacara kelahiran bayi yang dilaksanakan sebelum melepas tali pusar bayi. Saat bayi keluar dari kandungan ibunya, ia dibantu oleh keempat saudaranya yang disebut dengan Catur Sanak. Catur Sanak tersebut meliputi ari-ari, air ketuban (yeh nyom), puser (lamas), dan darah (rah), sehingga sang bayi pun juga harus memelihara dan melindungi keempat saudaranya.

Ritual ini dinilai sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan atas kehadiran si kecil di dunia. Biasanya, upacara ini dilakukan di dalam dan di depan pintu rumah.

Untuk melaksanakan ritual ini, dibutuhkan seseorang yang tertua atau dituakan dalam keluarga. Namun, jika di dalam keluarga tersebut tidak ada seseorang yang dituakan atau hidup merantau, sang ayah dapat menggantikan posisi pemimpin ritual ini.

MEDAK API (LOMBOK)

Medak Api adalah prosesi pemberian nama pada bayi setelah mencapai usia 7-9 hari setelah dilahirkan ke dunia. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk pelaksanaan tradisi Medak Api, di antaranya:

– 1 buah kelapa tua yang diparut dan dicampur dengan kunyit untuk keramas orang-orang yang terlibat dalam prosesi Medak Api ini.

Hal ini dipercaya masyarakat dapat menghindarkan para peserta upacara dari rabun.

– Kulit kelapa tua akan dibakar sampai menimbulkan asap yang digunakan sebagai perlengkapan upacara ini.

Nantinya bayi akan diayunkan di atas asap yang mengepul sebelum proses sembe atau pemberian nama.

– Benang hitam dan putih yang akan dipintal menjadi gelang untuk dipakaikan di kedua pergelangan tangan, kaki, dan pinggang bayi.

Ibu bayi juga harus mengenakan pintalan benang hitam putih ini sebagai upaya menghindarkan bayi dari hal-hal buruk. Benang ini enggak boleh dilepaskan atau diputuskan kecuali sudah rusak atau putus dengan sendirinya.

Tahap terakhir dari tradisi ini adalah pemijatan kaki ibu bayi agar terhindar dari penyakit.

Mamoholi (Sumatera Utara)

Tradisi Mamoholi adalah tradisi menyambut kelahiran bayi masyarakat Batak Toba. Tradisi ini bertujuan untuk menunjukkan rasa syukur pada Tuhan karena sudah menghadirkan anak yang sudah diidam-idamkan keluarga.

Saat mamoholi dilakukan maka saudara-saudara sekampung akan bergantian mempersiapkan makanan untuk ibu yang baru melahirkan. Hal ini akan terus berlanjut sampai si ibu benar-benar pulih untuk menyediakan makanannya sendiri.

Para hulahula/tulang juga akan datang untuk ikut bersukacita dan menunjukkan syukur atas kelahiran bayi baru dalam sebuah keluarga.

MOANA ( SULAWESI TENGAH)

Upacara Moana adalah sebuah tradisi adat menyambut kelahiran bayi di wilayah Palu, Sulawesi Tengah. Tradisi ini mencakup dua hal pokok, yakni pemotongan atau perawatan tumbuni (plasenta) dan upacara naik umbu (ayunan).

Upacara Moana diawali dengan memotong tumbuni, sebelumnya topopanuju mengurut-urut tumbuni dan memandikan sang jabang bayi.

Lalu piring adat diletakkan di bawah tali pusar yang akan dipotong, sebelumnya mantera-mantera dibacakan untuk keselamatan sang bayi, dan dipotonglah tali pusar dengan sembilu. Rangkaian prosesi tersebut dilakukan di tembale yang letaknya dekat kamar sang ibu.

Di saat yang bersamaan, keluarga dan semua tamu yang hadir membunyikan semua benda-benda yang ada di sekitar tempat upacara pemotongan tali tumbuni. Itu dilakukan dengan harapan agar sang bayi terhindar dari segala gangguan roh halus.

Rangkaian upacara yang kedua adalah naik umbu atau ayunan. Selama tujuh hari sang jabang bayi berada dalam umbu dengan didampingi topopanuju, ibu, dan keluarganya. Selama adat naik umbu, kaki bayi tidak boleh menyentuh tanah, karena berisiko diganggu makhluk halus.

Bayi yang mengikuti moana adalah bayi yang sudah berusia antara 3-7 hari.

NENJRAG BUMI (SUNDA)

Nenjrag Bumi merupakan salah satu ritual tradisi pada upacara adat khas Sunda yang dilakukan kepada anak bayi dengan tujuan agar kedepannya sang anak tidak gampang ketakutan dan gampang kaget. Tradisi ini sudah turun temurun dilakukan dari leluhur masyarakat adat Sunda.

Leluhur masyarakat adat Sunda sudah menyiapkan generasi penerusnya untuk menjadi sosok tangguh dan pemberani melalui salah satu ritual yang diwariskannya. Sehingga generasi penerusnya diberikan kesejahteraan dan keselamatan di dunia dan akhiratnya.

Tradisi dan ritual nenjrag bumi ini sangat mudah dilakukan. Terdapat dua cara ritual dalam nenjrag bumi ini. Pertama, ritual ini dilakukan dengan cara meletakkan sang bayi di pelupuh. Pelupuh adalah alas yang terbuat dari bambu yang di belah-belah. Selanjutnya, indung (dalam bahasa Sunda yang berarti ibu) menghentakkan kakinya ke pelupuh bambu tersebut sebanyak tujuh kali.

Cara kedua, bayi diletakkan di lantai beralaskan pelupuh bambu. Selanjutnya, memukulkan alu ke Bumi di dekat bayi. Alu merupakan pasangan dari lumpang, yang merupakan alat untuk menumbuk padi dan biasanya berupa selongsong kayu. Cara memukulkan alu dalam nenjrag bumi harus sebanyak tujuh kali hentakan.

Filosofi nenjrag bumi adalah di Bumi sebelah manapun kaki si anak dipijak dan sekeras apapun cobaan yang menerpa, maka anak tersebut akan siap dan kuat menghadapinya.

TURUN MANDI (SUMATERA BARAT)

Tradisi ini biasanya akan dilakukan saat bayi baru lahir hingga bayi sudah berusia tiga bulan. Sama seperti tradisi kelahiran bayi di daerah lain, tradisi ini juga merupakan bentuk syukur atas kelahiran bayi yang sehat ke dunia.

Upacara ini akan dilaksanakan di sumber mata air terdekat di suatu daerah, seperti di tempat pemandian, sungai, atau sumur.

Berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tradisi turun mandi khas Sumatera Barat, di antaranya:

– Sigi kain Buruak: obor yang terbuat dari kain robek yang akan dibawa ke tempat pelaksanaan upacara turun mandi.

– Tampang Karambia Tumbua: bibit kelapa yang siap tanam akan dihanyutkan dan ditangkap oleh ibu bayi sebagai salah satu prosesi upacaranya, sebagai simbol bekal kehidupan anak kelak.

– Tangguak: alat untuk menangkap ikan sebagai simbol bekal ekonomi anak di masa depan.

– Palo Nasi: nasi yang dilumuri arang dan darah ayam yang dipercaya bisa mengusir setan yang ingin turut hadir dalam upacara ini.

– Batiah Bareh Badulang: beras yang digoreng yang akan diberikan pada anak-anak yang ikut dalam prosesi upacara turun mandi sebagai ucapan terima kasih.