Benda Mahal Yang Dihasilkan Hewan Part-2 (End)

Benda yang berasal dari hewan dapat menjadi benda mahal karena susahnya dicari maupun dibuat ini sangat sesuai dengan kata bijak terdahulu, bahwa rejeki tidak hanya datang dari bungkusan emas, namun rejeki kadang datang dibalut koran bekas. Kata bijak tersebut tepat jika kita melihat bahwa suatu barang mahal berasal dari hewan yang bentuknya menjijikan, namun tidak disangka akan menghasilkan benda mahal.
Berikut benda benda mahal yang dihasilkan oleh hewan.
Kopi Luwak
Asal mula Kopi Luwak terkait erat dengan sejarah pembudidayaan tanaman kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-18, Belanda membuka perkebunan tanaman komersial di koloninya di Hindia Belanda terutama di pulau Jawa dan Sumatera. Salah satunya adalah bibit kopi arabika yang didatangkan dari Yaman. Pada era “Tanam Paksa” atau Cultuurstelsel (1830—1870), Belanda melarang pekerja perkebunan pribumi memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi, akan tetapi penduduk lokal ingin mencoba minuman kopi yang terkenal itu. Kemudian pekerja perkebunan akhirnya menemukan bahwa ada sejenis musang yang gemar memakan buah kopi, tetapi hanya daging buahnya yang tercerna, kulit ari dan biji kopinya masih utuh dan tidak tercerna. Biji kopi dalam kotoran luwak ini kemudian dipunguti, dicuci, disangrai, ditumbuk, kemudian diseduh dengan air panas, maka terciptalah kopi luwak. Kabar mengenai kenikmatan kopi aromatik ini akhirnya tercium oleh warga Belanda pemilik perkebunan, maka kemudian kopi ini menjadi kegemaran orang kaya Belanda. Karena kelangkaannya serta proses pembuatannya yang tidak lazim, kopi luwak pun adalah kopi yang mahal sejak zaman kolonial.
Luwak, atau lengkapnya musang luwak, senang sekali mencari buah-buahan yang cukup baik dan masak termasuk buah kopi sebagai makanannya. Luwak akan memilih buah kopi yang betul-betul masak sebagai makanannya, dan setelahnya, biji kopi yang dilindungi kulit keras dan tidak tercerna akan keluar bersama kotoran luwak. Biji kopi seperti ini, pada masa lalu sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan telah difermentasikan secara alami dalam perut luwak. Dan konon, rasa kopi luwak ini memang benar-benar berbeda dan spesial di kalangan para penggemar dan penikmat kopi.
Mutiara
Mutiara sebenarnya berasal dari sebuah pasir yang nyasar masuk ke cangkang Kerang Mutiara. Kehadiran sebutir pasir ke dalam cangkang tentulah bukan sesuatu yang diharapkan, karena menimbulkan sakit bagi tubuh Kerang Mutiara. Mencoba mengeluarkan pasir tentu bukan persoalan mudah bagi hewan tidak bertangan tersebut, alhasil Kerang Mutiara membangun sistem ketahanan tubuh yang unik.
Setiap kali pasir masuk ke dalam cangkang, Kerang Mutiara akan mengeluarkan semacam cairan untuk membungkus pasir tersebut. Cairan tersebut akan membungkus seluruh permukaan pasir, lalu mengeras dan berbentuk semacam bola kecil yang kita sebut mutiara. Pasir yang tadinya keras dan menyakiti tubuh Kerang Mutiara kini telah memiliki permukaan yang halus sehingga tidak lagi menyakitkan bagi Kerang Mutiara. Tidak hanya itu, mutiara yang dihasilkan dari sebutir pasir memiliki nilai keindahan yang sangat tinggi, hingga membuat Kerang Mutiara menjadi salah satu hewan laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
Tidak semua kerang dapat menghasilkan mutiara yang bagus dan memiliki nilai jual yang tinggi. Kerang penghasil mutiara umumnya berasal dari famili Pteriidae, namun yang umum dikenal hanya jenis-jenis tertentu seperti gold atau silver-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir emas atau bibir perak) Pinctada maxima, black-lip pearl oyster (kerang mutiara bibir hitam) Pinctada margaritifera, Akoya pearl oyster (kerang mutiara Akoya) Pinctada fucata dan the winged-pearl oyster (kerang mutiara bersayap) Pteria penguin.
Setiap jenis kerang mutiara menghasilkan mutiara dengan spesifikasi yang berbeda. Pinctada maxima menghasilkan mutiara relatif lebih besar dari semua jenis kerang penghasil mutiara, berwarna perak, emas dan krem. Jenis ini banyak dibudidayakan di Indonesia, Birma, Thailand dan Australia. Sedangkan kerang jenis Pinctada margaritifera merupakan primadona negara-negara pasifik Selatan. mutiara yang dihasilkannya bervariasi dari warna krem sampai warna hitam. Warna hitam merupakan warna yang diminati pelanggan mutiara dunia saat ini, dengan demikian harganya sangat mahal. Diameter mutiara yang dihasilkan umumnya lebih kecil daripada yang diproduksi Pinctada maxima. Sementara Pinctada fucata adalah jenis yang banyak dibudidayakan di Jepang, dan Pteria penguin tidak banyak dibudidayakan karena sejauh ini hasilnya diperuntukkan hanya pada kalangan tertentu mengingat bentuk mutiara yang dihasilkannya umumnya tidak bundar.
Propolis
Propolis merupakan liur lebah, terdapat empat jenis produk yang diproduksi oleh lebah, dan semuanya bermanfaat bagi kesehatan manusia. Madu, bee pollen, royal jelly dan propolis. Dari keempat jenis produk hasil lebah tersebut, propolis lah yang menjadi bintang dari semuanya, karena jumlahnya sedikit dan memiliki khasiat paling mantap.
Didalam propolis terkandung zat besi, vitamin B kompleks, pro vitamin A, vitamin C, vitamin E, asam amino, mineral, dan bermacam bioflavonoid. Bagi manusia, propolis lebah bisa dimanfaatkan untuk memberi perlindungan bagi tubuh, dimana produk ini dapat mengaktifkan kelenjar timus yang berfungsi sebagai sistem imunitas tubuh, menghalangi infeksi virus, jamur, dan parasit lainnya ke dalam tubuh.
Selain itu, propolis bersifat sebagai antiseptik, antibiotik, antijamur, antiradang, dan bermanfaat sebagai detoksifikasi. Penelitian ilmiah membuktikan propolis efektif melawan bakteri patogen seperti Staphylococcus sp. (penyebab infeksi saluran kencing), Clostridium sp. (penyebab gangguan pencernaan), Corynebacterium diphtheriae (penyebab dipteri), Streptococcus sp. (penyebab infeksi tenggorokan dan sinus), Klebsiella pneumonia (penyebab pneumonia dan bronchitis), dan Pseudomonas sp. (penyebab infeksi pada luka).
Bahkan beberapa ilmuan dari amerika menemukan, bahwa propolis dapat berguna untuk menghambar pertumbuhan virus HIV. Pada dasarnya manfaat propolis tidak jauh beda dengan produk lebah lainnya seperti madu, bee pollen dan royal jelly, yang membedakan adalah kekuatan efeknya pada tubuh manusia dapat berkali lipat jika dibandingkan dengan produk lebah lainnya.
Sarang Walet
Jarang sekali seseorang mau membeli liur untuk dijadikan bahan konsumsi, tapi beda halnya dengan liur dari burung walet. Dengan air liurnya yang kental, burung walet membuat sarangnya. Air liur yang kental itu akan mengering saat terkena udara. Ada 2 jenis sarang burung wallet, yaitu sarang burung walet yang dipanen di gua-gua di pegunungan dan sarang walet yang terdapat pada bangunan buatan manusia.
Di restoran sarang burung walet biasanya disajikan dalam bentuk sup atau manisan sebagai makanan penutup. Yan Wo begitu namanya dilafalkan dalam bahasa Mandarin, sudah selama berabad-abad dijadikan makanan kaum kelas atas. Kandungan gizinya yang tinggi membuatnya dipercaya memiliki khasiat sebagai aphrodisiac yang di masa tertentu hanya bisa dinikmati oleh kaum bangsawan di Tiongkok Kuno. Banyak sinshe dan ahli pengobatan China tradisional yang mencampurkan sarang burung walet ke dalam tonik penguat. Belakangan sup sarang burung walet dikemas dan diproduksi secara modern sebagai salah satu tonik penambah energi. Sayang harganya sangat mahal, walau jaman telah modern dan kaum bangsawan tidak lagi memonopoli sarang burung wallet, namun harganya masih tidak terjangkau oleh semua orang.
Sutera
Sutra atau sutera merupakan serat protein alami yang dapat ditenun menjadi tekstil. Jenis sutra yang paling umum adalah sutra dari kepompong yang dihasilkan larva ulat sutra murbei (Bombyx mori) yang diternak (peternakan ulat itu disebut serikultur). Sutra bertekstur mulus, lembut, namun tidak licin. Rupa berkilauan yang menjadi daya tarik sutra berasal dari struktur seperti prisma segitiga dalam serat tersebut yang membolehkan kain sutra membiaskan cahaya pada berbagai sudut.
Sutra liar dihasilkan oleh ulat selain ulat sutra murbei dan dapat pula diolah. Berbagai sutra liar dikenali dan digunakan di Cina, Asia Selatan, dan Eropa sejak zaman silam, namun skala produksinya selalu jauh lebih kecil dari pada sutra ternakan. Sutra liar berbeda dari sutra ternakan dari segi warna dan tekstur, dan kepompong liar yang dikumpulkan biasanya sudah dirusak oleh ngengat yang keluar sebelum kepompong tersebut diambil, sehingga benang sutra yang membentuk kepompong itu sudah terputus menjadi pendek. Ulat sutra ternakan dibunuh dengan dicelup ke dalam air mendidih sebelum keluarnya ngengat dewasa, atau dicucuk dengan jarum sehingga seluruh kepompong dapat diurai menjadi sehelai benang yang tidak terputus.
