Aktivitas Sehari-Hari Yang Pernah Dianggap Ilegal Part-1

Sulit untuk membayangkan bahwa beberapa aktivitas kita yang paling biasa bisa menjadi kejahatan yang dapat dihukum di masa lalu. Namun, sejarah dipenuhi dengan hukum-hukum aneh yang melarang tindakan-tindakan yang sekarang kita anggap biasa saja. Hukum-hukum yang sering kali lahir dari kepercayaan agama, norma-norma budaya, atau upaya-upaya yang salah arah untuk mengendalikan, mencerminkan seberapa banyak nilai-nilai masyarakat telah berubah dari waktu ke waktu. Berikut adalah beberapa aktivitas sehari-hari yang dulunya ilegal di berbagai budaya dan era.
Berciuman di Depan Umum (Amerika Kolonial)
Di New Haven, Connecticut, pertunjukan kasih sayang di depan umum diatur dengan ketat, khususnya oleh penguasa Puritan yang memerintah koloni tersebut. Berciuman di depan umum, bahkan di antara pasangan yang sudah menikah, dianggap sebagai pertunjukan emosi yang tidak pantas yang dapat menyebabkan skandal publik. Kepercayaan Puritan menekankan kesopanan, dan setiap kasih sayang fisik yang terbuka dianggap sebagai pelanggaran norma sosial. Pasangan yang tertangkap berciuman di depan umum dapat didenda atau dikurung, di mana mereka akan menghadapi ejekan publik.
Larangan menunjukkan kasih sayang di depan umum mencerminkan tujuan Puritan yang lebih luas untuk memisahkan kehidupan pribadi dari perilaku publik. Cinta dan kasih sayang dianggap sebagai masalah pribadi yang tidak boleh ditunjukkan kepada semua orang. Walau hukum-hukum ini akhirnya tidak lagi berlaku, perdebatan mengenai menunjukkan kasih sayang di depan umum terus berlanjut di Amerika selama berabad-abad, dengan banyak komunitas yang memberlakukan aturan ketat tentang perilaku yang pantas di tempat umum.
Bermain Catur (Kekhalifahan Islam)
Walau catur merupakan permainan yang digemari di dunia Islam, permainan ini tidak selalu memiliki status hukum. Pada abad ke-9, khalifah Al-Mutawakkil, yang memerintah sebagian besar dunia Muslim mengeluarkan larangan terhadap permainan ini. Keputusan ini bukan tanpa preseden, karena banyak ulama pada saat itu memandang catur dengan curiga. Beberapa berpendapat bahwa permainan ini mengalihkan perhatian dari doa dan mendorong perjudian, dua kegiatan yang dikutuk dalam ajaran Islam. Sementara yang lain percaya, bahwa catur dengan fokusnya pada strategi dan kompetisi hingga mendorong perilaku malas dan mengalihkan perhatian dari kegiatan yang lebih produktif.
Walau dilarang, catur tetap populer terutama di kalangan intelektual dan penguasa yang menghargai kompleksitas dan tantangan mental permainan tersebut. Klub catur bawah tanah dan pertandingan rahasia berkembang pesat di banyak daerah, dan para pemain menemukan cara-cara kreatif untuk menyamarkan papan dan buah catur mereka agar tidak terdeteksi. Ketegangan antara popularitas permainan dan status hukumnya menyebabkan seringnya terjadi bentrokan antara otoritas agama dan masyarakat, dengan hukuman mulai dari denda hingga penyitaan perangkat catur.
Larangan catur dicabut di banyak wilayah karena sikap terhadap permainan tersebut mulai melunak, namun ketegangan antara nilai-nilai agama dan budaya masih ada selama berabad-abad. Saat ini, catur dirayakan di sebagian besar dunia Islam, dengan kedalaman strategisnya yang dipandang sebagai cerminan pencapaian intelektual peradaban yang pernah berusaha melarangnya.
Bersiul di Depan Umum (Eropa Abad Pertengahan)
Di Eropa abad pertengahan, bersiul dikaitkan dengan bahaya dan kekacauan. Di daerah tertentu, khususnya di Inggris dan Prancis, bersiul dianggap dapat memanggil roh jahat atau menyampaikan pesan rahasia antar penjahat. Takhayul ini menyebabkan adanya undang-undang ketat yang melarang bersiul di depan umum, terutama di malam hari. Pihak berwenang khawatir bahwa pencuri dan penjahat menggunakan peluit untuk memberi isyarat satu sama lain selama kegiatan terlarang mereka, itulah sebabnya praktik tersebut dilarang setelah gelap.
Di beberapa kota jika seseorang tertangkap bersiul di malam hari, mereka dapat didenda atau dipermalukan di depan umum seperti dipasung. Hubungan antara bersiul dan aktivitas kriminal menjadi begitu mengakar hingga bertahan selama berabad-abad. Walau hukum tersebut telah lama memudar, sisa-sisa takhayul ini masih ada, dengan beberapa budaya percaya bahwa bersiul di dalam ruangan atau setelah matahari terbenam membawa nasib buruk.
Jalan-jalan Malam (Jepang Feodal)
Di Jepang feodal, tindakan berjalan di malam hari dianggap sebagai aktivitas berbahaya yang hanya dilakukan oleh para penjahat, pembunuh, dan orang buangan. Patroli samurai yang dikenal sebagai “doshin” memberlakukan jam malam yang ketat, dan rakyat jelata yang keluar rumah setelah gelap tanpa izin dapat ditangkap atau bahkan dieksekusi. Malam hari dianggap sebagai wilayah kekuasaan yakuza, ninja, dan tokoh-tokoh bayangan lainnya, dan tinggal di dalam rumah setelah matahari terbenam sangat penting untuk menjaga ketertiban dan keamanan sosial.
Ketakutan akan kejahatan di malam hari begitu, kuat sehingga seluruh desa akan mengunci gerbang mereka saat senja. Hanya beberapa orang yang dapat dipercaya seperti samurai, untuk berpatroli di jalan-jalan. Pedagang dan pejabat yang bepergian diberi izin khusus jika mereka perlu bepergian di malam hari, tetapi mereka pun berisiko berhadapan dengan samurai jika mereka tidak mengikuti protokol yang tepat.
Undang-undang ini bukan hanya tentang pencegahan kejahatan, namun juga cara untuk mengendalikan pergerakan penduduk. Kelas penguasa ingin memastikan, bahwa para petani tetap fokus pada pekerjaan harian mereka dan tidak terlibat dalam pertemuan rahasia atau kegiatan pemberontakan setelah gelap. Walau jalan-jalan di Jepang kini dikenal aman di malam hari, hal ini tidak selalu terjadi, dan berjalan-jalan di malam hari pada masa feodal merupakan tindakan yang berisiko.
Mandi (Eropa Abad Pertengahan)
Setelah Wabah Hitam, kebersihan menjadi hal yang meragukan di Eropa abad pertengahan, khususnya di kalangan pemimpin agama. Dipercaya, bahwa mandi khususnya di pemandian umum dapat menyebabkan pori-pori tubuh rentan terhadap penyakit dan kerusakan moral. Gagasan bahwa air dapat melemahkan pertahanan tubuh menyebabkan kepercayaan luas, bahwa mandi secara teratur berbahaya. Ketakutan ini diperparah oleh keterkaitan pemandian dengan perilaku tidak bermoral, karena banyak yang dikaitkan dengan prostitusi dan pemanjaan dosa.
Pada abad ke-16, beberapa wilayah Eropa melarang pemandian umum dan mandi sendiri tidak dianjurkan, khususnya oleh otoritas keagamaan. Alih-alih mencuci dengan air, orang-orang dianjurkan untuk membersihkan diri dengan menggosok kulit mereka dengan kain kering dan menggunakan parfum yang kuat untuk menutupi bau. Keluarga kaya yang mampu mandi secara pribadi, sangat berhati-hati untuk tidak memamerkan kebiasaan higienis mereka agar tidak dituduh sombong atau boros.
Ironisnya, ketakutan terhadap air ini kemungkinan besar turut menyebabkan penyebaran penyakit, karena praktik “dry cleaning” tidak banyak membantu mencegah penyebaran bakteri. Mandi tidak lagi diterima secara luas hingga abad ke-19, saat reformasi kesehatan masyarakat dan kemajuan dalam sanitasi membantu membalikkan kepercayaan yang salah selama berabad-abad.
