Indonesia memiliki banyak ilmuwan yang penemuannya diakui dunia. Beberapa di antaranya bahkan mendapatkan penghargaan dan diapresiasi dalam berbagai jurnal ilmiah.

Berikut beberapa penemuan dari orang Indonesia yang berhasil diakui oleh dunia.

ADI UTARINI

Teknologi Wolbachia ditemukan oleh Founder dan Direktur The World Mosquito Program (WMP) Global, Prof. Scott O’Neill pada tahun 2008. Teknologi Wolbachia merupakan inovasi yang mampu melumpuhkan virus dalam nyamuk penyebab demam berdarah.

Ilmuwan asal Indonesia, Prof dr Adi Utarini, MSc, MPH, PhD, kemudian memimpin uji coba perintis dengan Teknologi Wolbachia. Teknologi Wolbachia ini telah melalui uji efikasi dan selesai pada Agustus 2020. Bersama timnya, Adi Utarini kemudian mengimplementasikan teknologi ini di Kabupaten Sleman, DIY. Hasilnya, Adi Utarini berhasil menurunkan kasus demam berdarah di Kota Yogyakarta sebesar 77%. Studi ini kemudian menjadi terobosan bagi organisasi yang ia bantu, Adi Utarini juga menjadi yang pertama membuktikan teknik ini berhasil menurunkan tingkat penyakit di lingkungan masyarakat.

Berkat temuan dari studinya itu, Adi Utarini didapuk Komunitas jurnal penelitian Nature Research sebagai 10 orang yang dianggap paling berpengaruh dalam pengembangan ilmu pengetahuan pada 2020 (Nature’s 10: Ten People Who Helped Shape Science in 2020).

BJ HABIBIE

Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie dikenal sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia, dan ia juga merupakan Bapak Teknologi Indonesia yang terutama berkontribusi dalam dunia penerbangan. Pada tahun 1960, BJ Habibie berhasil menemukan Teori Crack Propagation, yang dapat mengkalkulasi keretakan pada badan pesawat terbang yang disebabkan oleh kelelahan atau fatigue.

Titik rawan fatigue atau kelelahan pada badan pesawat biasanya terjadi pada bagian sambungan antara sayap dan badan pesawat terbang, atau antara sayap dan dudukan mesin. Dengan temuan ini, sebuah solusi untuk mendeteksi rambatan kerusakan konstruksi pada badan pesawat bisa diatasi. Selain itu, BJ Habibie juga berhasil meringankan bobot pesawat kosong tanpa berat penumpang dan bahan bakar hingga 10 persen dari sebelumnya. Angka penurunan ini dpaat mencapai 25 persen setelah material komposit dimasukkan ke dalam tubuh pesawat. Selama hidupnya, ia diketahui telah memiliki 46 hak paten terutama di bidang aeronautika.

DR JOE HIN TJIO

Dr Joe Hin Tjio, ilmuwan kelahiran Pekalongan berhasil menemukan fakta bahwa jumlah kromosom dalam tubuh manusia 46 buah alias 23 pasang kromosom. Ia merupakan ahli genetik di National Institutes of Health dan lulusan sekolah agronomi di Bogor, serta fasih berbahasa Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman. Temuannya sangat penting karena kromosom manusia yang berjumlah 23 pasang menjadi pembeda manusia dengan primata lain.

Misal jumlah kromosom simpanse 24 pasang, dan demikian halnya dengan primata serupa. Hasil observasi Joe Hin Tjio, yang mengubah pandangan dunia itu, dituliskan dalam jurnal Hereditas pada Mei 1956 berjudul ‘The Chromosome Number of Man’. Jurnal genetika ini telah memiliki kredibilitas yang diakui dunia.

DR WARSITO PURWO TARUNO

Electro-Capacitive Cancer Therapy (ECCT) merupakan teknologi yang dirancang oleh ilmuwan Indonesia, Dr Warsito Purwo Taruno. Teknologi atau alat tersebut kemudian lebih dikenal dengan nama jaket Warsito. Walau mengalami kontroversi di Indonesia, temuan ini mendapat tempat di masyarakat lokal dan global. Pada 8 Februari 2016, ia kemudian memulai pelatihan internasional pertama untuk penanganan kanker di Warsawa, Polandia.

Selain itu, Dr Warsito Purwo Taruno juga penemu alat pemindai berbasis medan listrik yang sangat bermanfaat bagi bidang medis dan industri. Alat pemindai itu menggunakan sistem ECVT atau Electrical Capacitance Volume Tomography. Teknologi tomografi ini berbentuk 3 dimensi dan sudah dipatenkan di Amerika Serikat pada lembaga paten internasional PTO/WO bernomor 60/664,026 tahun 2005 dan 60/760,529 tahun 2006. Bahkan ECVT ini sudah digunakan oleh NASA (Lembaga Antariksa Amerika Serikat) untuk memindai objek pada pesawat ulang-alik selama misi ke antariksa.

DR YOGI AHMAD ERLANGGA

Dr Yogi Ahmad Erlangga adalah alumni Teknik Penerbangan ITB 1993 yang berhasil menyelesaikan persamaan Helmholtz menggunakan matematika numerik secara cepat (robust). Hasil dari risetnya tersebut dapat mempercepat pemrosesan data seismik dalam survey cadangan minyak bumi.

Berkat temuannya itu, persamaan Helmholtz yang digunakan dalam pemrosesan data seismik menjadi seratus kali lebih cepat. Hal ini menjadi angin segar bagi perusahaan minyak karena metode ini terbukti lebih baik dan cepat daripada yang biasa digunakan.

KHOIRUL ANWAR

Khoirul Anwar adalah salah satu ilmuwan Indonesia yang turut berjasa dalam penemuan konsep Fast Fourier Transform (FFT). Konsep FFT tersebut kemudian dikembangkan dan dipakai dalam teknologi 4G LTE.

Menariknya, konsep ciptaannya tersebut sudah menjadi standar International Telecommunication Union (ITU) dan dipatenkan pada 2005. Tidak hanya itu, lulusan NAIST (Nara Institute of Science and Technology) dari Jepang ini juga mengantongi sejumlah paten transmitter yang berpotensi akan dipakai dalam teknologi 5G.

MUHAMMAD NURHUDA

Muhammad Nurhuda berhasil menciptakan kompor ramah lingkungan (biomassa) yang menarik perhatian negara-negara Asia Pasifik dan Amerika. Ia juga berhasil mengembangkan ‘Rancang Bangun Pilot Plant Gasifikasi Sampah Menjadi Syngas untuk Alternatif Pembangkit Energi Listrik yang Ramah Lingkungan’. Rancangannya menghasilkan limbah kurang dari batas minimum WHO. Biomassa sendiri adalah bahan organik yang diperoleh dari tanaman, dan digunakan sebagai energi dalam jumlah besar.

RM SEDYATMO

Di bidang arsitektur, terdapat sistem infrastruktur pondasi cakar ayam yang ditemukan oleh Prof Ir RM Sedyatmo pada tahun 1961. Pondasi ini menjadi inovasi bidang arsitektur karena tidak memerlukan sistem drainase dan memiliki daya topang bangunan yang kuat (dapat mencapai hingga 600 ton per kolom). Salah satu tempat yang menggunakan temuan Prof Ir RM Sedyatmo adalah landasan pacu Bandara Soekarno Hatta.

TJOKORDA RAKA SUKAWATI

Bidang arsitektur memiliki Tjokorda Raka Sukawati yang berhasil menemukan konstruksi Sosrobahu atau sistem Landasan Putar Bebas Hambatan (LPBH). Sistem ini memudahkan pembangunan jalan layang tanpa mengganggu lalu lintas, dan hasilnya pembangunan jalan layang tidak menimbulkan kemacetan atau gangguan arus lalu lintas lainnya. Hasil temuan alumni teknik sipil ITB ini digunakan untuk membangun jembatan di Seattle.