Banyak penemuan yang telah ditemukan oleh para ilmuwan yang mendedikasikan hidupnya untuk penelitian atau bahkan oleh orang biasa. Louis Pasteur, sang penemu vaksin rabies dan antraks pernah mengatakan, “Keberuntungan memihak dia yang paling siap.”

Dalam banyak hal perkataan tersebut tentu saja benar, ternyata ada banyak penemuan yang tercipta secara tidak sengaja. Penemuan yang terjadi saat sang ilmuwan sedang meneliti hal lain, atau penemuan yang pada mulanya tidak direncanakan. Berikut ada beberapa penemuan yang ditemukan secara tidak sengaja.

1. Sakarin

Sakarin yang dikenal sebagai zat pemanis buatan, ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ahli kimia asal Russia bernama Constantin Fahlberg. Pada tahun 1879 setelah bekerja seharian di laboratoriumnya, ia lupa mencuci tangan. Hari itu dia “bermain-main” dengan bahan campuran arang dan tembakau untuk meneliti kegunaannya.

Saat makan malam di rumah, dia merasakan kue rolls yang dia makan saat makan malam terasa lebih manis dari biasanya. Ditanyakan kepada istrinya apakah dia memberikan gula ke kuenya, dan dijawab tidak oleh sang istri. Kue-kue rolls tersebut terasa normal seperti di lidah istrinya. Lalu Fahlberg menyadari bahwa rasa manis tersebut berasal dari tangannya. Esok harinya dia kembali ke laboratoriumnya dan meneliti lebih lanjut, dan akhirnya menemukan sakarin.

Sekarang, sakarin dinyatakan dapat membahayakan kesehatan karena ada kandungan zat yang dapat memicu dan meyebabkan kanker. Kenyataanya, bahan kimia ini sudah tersebar di hampir setiap makanan siap saji di seluruh dunia atau lebih dari 6000 merk makanan dan minuman, bahkan juga dicampur pada gula organik alami.

2. Teflon

Seorang peneliti di sebuah perusahaan kimia terkenal DuPont bernama Roy Plunkett, tengah mencari bahan yang dapat digunakan untuk menggantikan CFC (chlorofluorocarbons atau freon). Ia memiliki teori jika ia mencampurkan senyawa TFE dengan hydrochloric acid, ia akan mendapatkan zat pendingin baru yang diinginkan.

Kemudian ia mengumpulkan gas TFE dengan jumlah cukup besar yang ia pampatkan dan didinginkan dalam temperatur rendah di dalam sebuah kaleng logam laboratorium bersama hydrochloric acid agar bereaksi.

Esok harinya saat ia ingin mengamati apa yang terjadi, ia menemukan bahwa gas TFE yang ia campurkan di dalam kaleng tersebut hilang. Dengan rasa kecewa dan marah ia membuka tutup kaleng logam dan menggoyangkannya dengan keras. Dari tutup kaleng tersebut berjatuhan serpihan kecil berwarna putih dan licin. Serpihan putih itu kemudian ia berikan kepada peneliti lain di Dupont agar diteliti lebih jauh, yang di kemudian hari menjadi bahan dasar pembuatan panci anti lengket atau teflon.

3. Karet Vulkanisir

Selama bertahun-tahun, Charles Goodyear berusaha untuk menemukan suatu bahan terbuat dari karet yang tahan terhadap panas dan dingin. Belum pernah ada yang dapat memuaskan keinginannya hingga suatu saat tanpa sengaja ia menumpahkan sebuah campuran karet dan belerang (sulfur) ke atas kompor.

Panas di dalam kompor tersebut membakar hangus campuran karet dan belerangnya, membuatnya menjadi keras tetapi masih kenyal dan fleksibel. Bahan inilah yang disebut karet vulkanisir dan digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat berbagai macam benda berguna seperti ban mobil hingga pesawat terbang, dan sol sepatu.

4. Plastik

Di awal abad ke-20, shellac (bahan seperti plastik keras dan kaku) banyak digunakan dalam industri elektronik untuk membungkus perangkat elektronik. Bahan shellac harganya cukup mahal, karena terbuat dari semacam serangga yang hanya hidup di Asia Tenggara sehingga harus diimport.

Seorang ahli kimia asal Belgia bernama Leo Hendrik Baekeland, pada tahun 1907 melakukan penelitian untuk menciptakan bahan alternatif shellac dengan pemikiran ia akan menghasilkan banyak uang, jika ia dapat menjual bahan tersebut pada industri elektronik.

Penelitiannya tersebut menghasilkan bahan lentur yang dapat dibentuk dan cukup tahan akan panas. Ia memberi nama bahan ini “Bakelite”. Kemudian ia menyadari bahan Bakelite ini memiliki banyak sekali kegunaannya. Bahan plastik yang dikenal saat ini merupakan turunan dari Bakelite.

5. Pewarna Kain Sintetis

Pada tahun 1856 seorang ahli kimia berusia 18 tahun bernama William Perkin berusaha untuk menemukan obat malaria. Berbagai penelitian dan percobaan ia lakukan, namun yang ia hasilkan hanyalah sebuah cairan kental yang tidak mengesankan.

Setelah diamati cairan ini ternyata terlihat cukup bagus dan diketahui kemudian, bahwa ia menemukan bahan pewarna kain sintetis yang pertama.

Pewarna sintetis yang ia temukan jauh lebih baik daripada pewarna alami yang dikenal sebelumnya, karena memiliki warna yang lebih cerah dan tidak luntur saat dicuci. Bahan ini ternyata juga memiliki manfaat lain, seorang ahli bakteri Jerman bernama Paul Ehrlich mengembangkan bahan ini dalam menciptakan imunologi dan kemoterapi.

6. Alat Pacu Jantung

Alat pacu jantung ditemukan tidak sengaja oleh seorang insinyur bernama Wilson Greatbatch. Awalnya ia tengah bekerja untuk membuat alat pencatat suara jantung. Namun secara tidak sengaja, ia salah mengambil komponen elektronik dari kotak komponennya.

Saat tengah bekerja, ia membutuhkan resistor yang seharusnya bernilai hambatan 10,000 ohm. Namun ia telah salah mengambil resitor tersebut dan memiliki nilai tahanan atau hambatan sebesar 1 megaohm (1 juta ohm).

Hasilnya, sirkuit elektronik yang sedang ia kerjakan berdetak selama 1.8 milidetik, kemudian berhenti sementara selama 1 detik, sebelum mulai berdetak kembali. Ia perhatikan, pola ini mirip dengan detak jantung manusia, dan dari inilah alat pacu jantung ditemukan.