Film Stigmata yang dibesut oleh Ruper Wainwright menceritakan bahwa ada seorang hairdresser atheis yang mengalami tanda-tanda stigmata, di mana di beberapa bagian tubuh terdapat luka misterius. Luka yang mirip seperti yang dialami Yesus saat disalibkan. Film tersebut terinspirasi dari kisah nyata, yang ternyata tidak dialami oleh satu orang saja di dunia.

Ada banyak orang, baik wanita maupun pria yang dilaporkan pernah mengalami stigmata di dalam hidupnya. Muncul luka-luka seperti dipaku dan berdarah dengan tiba-tiba, tanpa penyebab, dan tanpa ada yang tahu dari mana asalnya. Kemunculan stigmata pada orang-orang tersebut juga masih meninggalkan tanda tanya besar.

Fenomena Stigmata masih merupakan misteri dan pertanyaan besar dari segi sains, kesehatan bahkan keimanan. Kejadian Aneh Stigmata ini biasanya terjadi di lingkungan Tradisi Iman Kristen Katolik, yaitu biarawan atau biarawati terpilih yang mengalaminya. Aneh Tapi Nyata luka ini muncul secara tiba-tiba dan mengeluarkan darah baru yang segar tanpa meninggalkan infeksi bagi stigmatic (sebutan untuk orang yang mengalami kejadian aneh ini). Berikut beberapa Orang yang Pernah Mengalami Stigmata, Tanda Luka Salib Yesus :

Therese Neumann

Therese Neumann, wanita dari Konnersreuth Bavaria Jerman ini dilahirkan pada tahun 1898 dari sebuah keluarga Katolik yang terbilang miskin. Suatu ketika saat usianya memasuki 20 tahun, api melalap gudang Martin Neumann pamannya, tempat di mana Thresia bekerja. Saat membantu memadamkan api, Therese mengalami kecelakaan. Ia jatuh ke tanah dengan rasa teramat nyeri di punggung, Ia tidak dapat berjalan dan harus dipapah pulang. Kecelakaan ini membuatnya lumpuh sebagian di punggung dan kejang-kejang hebat di kedua kaki. Dokter tidak dapat membantu menyembuhkannya, hingga keadaan Therese semakin memburuk dari hari ke hari. Puncak dari penderitaannya terjadi pada bulan Maret 1919, yaitu saat ia menjadi buta.

Therese, gadis yang dulunya sangat aktif, kini hanya bisa terbaring di tempat tidur karena kebutaan, nyeri di punggung dan kedua kaki, serta luka bernanah di punggung dan kakinya. Ia kemudian menghabiskan hidupnya dengan berbaring di ranjang selama 6,5 tahun. Keluarganya selalu menghibur dengan membacakan bacaan rohani. Dengan ajaib, ia mengalami kesembuhan dan tepat 1 tahun kemudian dia menerima stigmata di bagian jantung dan kedua telapak tangannya. Saat itu juga, ia berpuasa penuh selama 36 tahun hingga ajalnya, sehingga makanan dan minumannya hanyalah ‘Tubuh Kristus’.

St Padre Pio

Peristiwa Stigmata yang dialami oleh Padre Pio, terjadi di Pietrelcina sore hari 7 September 1911. Karena takut, Ia lalu menemui Monsigneur Salvatore Panullo, Pastor Paroki Pieltrecina untuk menolongnya dengan cara berdoa. Ajaibnya, luka-luka stigmata itu hilang.

Pada tanggal 5 Agustus 1918, Padre Pio mendapat penglihatan di mana ia merasa dirinya ditikam dengan sebilah tombak, setelah itu luka akibat tikaman tombak itu membekaa pada tubuhnya. Pada tanggal 20 September 1918 saat ia sedang sendirian memanjatkan syukur sesudah perayaan Misa disebuah kapel tua, ia menerima luka di kedua kaki dan tangannya. Setiap hari Padre Pio kehilangan sekitar satu cangkir darah dan anehnya, luka-luka itu tidak pernah menutup ataupun bertambah parah. Keanehan semakin bertambah, bukannya bau amis darah melainkan bau harum yang terpancar dari luka-luka stigmatanya.

Marie Rose Ferron

Seorang wanita yang dilahirkan pada 1902, bernama Marie Rose Ferron mendapat penglihatan Tuhan Yesus kecil di usia 6 tahun. Iapun dibesarkan secara religius dan pengalaman yang semakin nyata. Hingga usianya mencapai 22 tahun, ia dikabarkan tidak pernah makan makanan padat dan hanya bertahan dengan mengonsumsi makanan cair.

Di usia 26 tahun kemudian ia mendapati tanda-tanda stigmata pada tubuhnya. Di telapak tangan, pergelangan kaki, dada, di bahu serta di kepala. Darah juga keluar dari mata dan mulutnya. Anehnya, luka-luka tersebut hanya muncul di hari Jumat dan menghilang di hari Sabtu. Saat ia meninggal, lebih dari 15 ribu orang datang menyaksikan pemakamannya di tahun 1936.

St. Gemma Galgani

Lahir di Carnigliano, Italia dengan nama Maria Gemma Umberta Pia Galgani, Gemma dilaporkan mengalami stigmata pada usia 21 tahun. Secara misterius ia mengalami luka di telapak tangan, pergelangan kaki, dada dan luka di kepala seperti mahkota duri. Darah selalu mengalir keluar dari luka tersebut setiap Kamis malam pukul 11.00 hingga Jumat sore pukul 03.00. Awalnya ia selalu menyembunyikan luka dan sakit yang dirasakannya. Kemudian, ia mengaku kepada gereja mengenai luka yang dimilikinya.

Sepanjang hidupnya, ia habiskan dengan berdoa dan menerima luka tersebut. Sayangnya, ia menutup mata di tahun 1903 akibat penyakit Tubercolosis yang diidapnya.

St Fransiskus

Pada bulan Agustus tahun 1224 St Fransiskus dan beberapa biarawan lainnya mengadakan perjalanan ke Mount Alvernia di Umbria, dekat Assisi untuk berdoa. Di sana, St Fransiskus memohon untuk diperkenankan ikut ambil bagian dalam sengsara Kristus. Pada Pesta Salib Suci 14 September 1224, St Fransiskus mendapat penglihatan ia dipeluk oleh Yesus yang tersalib. Sengsara dari Jumat Agung yang pertama tercurah atas dirinya, dan ia menerima stigmata.

St Fransiskus berusaha menyembunyikan tanda karunia ilahi ini dari yang lainnya, dengan membalut kedua tangannya dengan jubahnya dan mengenakan sepatu serta kaus kaki. Lambat laun, rekan-rekan biarawan memperhatikan perubahan dalam cara berpakaian St Fransiskus dan juga sengsara fisiknya, maka terungkaplah rahasia stigmatanya. Pada akhirnya, atas nasehat para rekan biarawan, St Fransiskus mulai membiarkan stigmatanya terlihat oleh orang lain.

St Katarina

St Katarina dianugerahi pengalaman mistik dan penglihatan sejak ia masih berusia enam tahun, juga dianugerahi stigmata. Pada bulan Februari 1375, ketika mengunjungi Pisa, ia ikut ambil bagian dalam Misa di Gereja St Kristina. Setelah menyambut Komuni Kudus, ia tenggelam dalam meditasi mendalam, sementara matanya menatap lekat pada salib.

Kemudian, dari salib datanglah lima berkas sinar berwarna merah darah yang menembusi kedua tangan, kaki dan lambungnya, mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa hebat hingga ia jatuh tidak sadarkan diri. St Katarina dari Sienna menerima stigmata, yang hanya tampak olehnya saja, hingga sesudah akhir hayatnya.