Aneh Tapi Nyata – Seperti yang kita tahu, sejak beberapa pekan yang lalu, seluruh warga Indonesia sedang dihebohkan dengan adanya fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.

Sebagai informasi bahwa karhutla telah terjadi di sejumlah daerah, seperti Kalimantan, Sumatera, dan Papua.

Sebaran titik api paling tinggi yakni terjadi di daerah Kalimantan dan Sumatera.

Berdasarkan laporan terbaru dari Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan, maka pada pagi hari ini, sekitar Pukul 08.30 WIB, telah terdapat 619 titik panas hotspot yang menyebar di 17 Provinsi Indonesia, dan sebaran titik panas paling tinggi terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.

Pada Provinsi Kalimantan Tengah sendiri titik terbesar terjadi di daerah Kabupaten Kapuas dengan nilai sebara 53 titik, daerah Kabupaten Pulau Pisau dan Kotawaringin Timur telah menyebar hingga 45 titik., dan terakhir di Kabupaten Katingan telah terjadi penyebaran sebesar 38 titik.

Selanjutnya pada Provinsi Sumatera Selatan, terdapat titik penyebaran tertinggi yakni di Kabupaten Ogan Komerling Lir (OKI) dengan total 118 titik panas, dan disusul di daerah Kabupaten Banyuasin dengan sebaran titik panas yakni 34 titik, dan terakhir terjadi di daerah Kabupaten Musi Banyuasin dengan sebaran sebanyak 28 titik panas.

Banyak masyarakat yang resah dan sedih dengan adanya fenomena karhutla, karena karhutla sendiri menimbulkan banyak dampak negatif terhadap sosial dan lingkungan.

Dampak negatif yang ditimbulkan yakni mencemari lingkungan, krisis air bersih, punahnya flora dan fauna, mobilitas masyarakat terganggu, kerusakan infrastruktur, dan tingginya potensi gangguan kesehatan massal.

Karena adanya dampak negatif tersebut maka saat ini banyak masyarakat yang protes dan meminta pemerintah untuk tanggung jawab secara langsung untuk memadamkan karhutla dan menyelamatkan nyawa masyarakat dari gangguan kesehatan.

Protes tersebut dilakukan dengan berbagai cara, yakni seperti protes mengkritik pemerintah di sosial media, maupun demo turun langsung ke jalan.

Meskipun protes telah dilakukan secara daring maupun dengan demo langsung, tetapi protes yang paling unik justru terjadi baru-baru ini, yakni terdapat sekelompok pemuda yang sengaja memanjat patung bundaran HI untuk membentangkan bendera atau spanduk raksasa dengan sejumlah tulisan mengenai krisis lingkungan dan ekonomi.

Tulisan pada spanduk yang dibentangkan di patung bundaran HI tersebut ialah “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”, “Turunkan Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup”, “Tangani Krisis, Bukan Bungkam Kritik”, “Elite Berpesta, Rakyat Menderita”, “Lindungi Lingkungan, Perbaiki Kualitas Hidup, Benahi Kebijakan”.

Aksi pemasangan spanduk di patung bundaran HI tersebut merupakan aksi yang unik dan menjadi aksi pertama di Indonesia.

Banyak warganet yang mendukung aksi tersebut, bahkan foto tentang spanduk tersebut telah menyebar luas di sosial media, dan sempat menjadi trending topik di sejumlah platform.

Setelah dilakukan pendalaman, ternyata sekelompok pemuda yang melakukan aksi tersebut merupakan sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia.

Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) Airlangga Julio mengatakan, aksi yang dilakukan oleh Greenpeace adalah aksi yang benar dan sangat mencerminkan keresahan masyarakat terhadap kondisi saat ini, dimana kebakaran hutan dan lahan terjadi dimana-mana, tingginya biaya hidup, kesulitan dimana-mana, dan banyak kebijakan pemerintah yang keliru terhadap kondisi saat ini.

Airlangga Julio mengaku bahwa saat ini seluruh masyarakat berharap agar kebakaran hutan dan lahan dapat segera tertangani, dan semoga dengan adanya pemasangan bendera tersebut pemerintah dapat sadar dan mengambil langkah yang bijak dalam mengatasi berbagai persoalan yang ada.

Sejumlah pakar ahli juga mengklaim bahwa udara bersih dan keamanan masyarakat adalah salah satu tugas dan tanggung jawab pemerintah.