Orang Yang Tinggal Di Rumah Pohon
Beberapa orang memiliki kegemaran memanjat pohon, bahkan membuat rumah pohon saat masih kecil. Biasanya rumah pohon hanya digunakan sebagai tempat untuk bermain-main atau beristirahat sejenak, namun tidak dengan orang-orang di bawah ini. Bagi mereka, rumah pohon justru menjadi tempat tinggal utama mereka. Berikut ini adalah orang-orang yang tinggal di rumah pohon.
FINCA BELLAVISTA
Di Kosta Rika ,terdapat komunitas modern yang menghabiskan seluruh hidupnya di rumah pohon. Finca Bellavista adalah nama dari kawasan perumahan di atas pohon tersebut. Finca Bellavista terdiri dari 40 unit rumah pohon yang sumber tenaganya berasal dari sinar matahari. Ide untuk mendirikan Finca Bellavista berawal saat Matt Hogan dan Erica Andrews berupaya menyelamatkan kawasan hutan setempat dari ancaman penebangan. Karena lokasinya berada di tengah-tengah hutan, suara hewan-hewan liar pun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari penghuni Finca Bellavista.
Rumah-rumah yang menjadi bagian dari Finca Bellavista semuanya dibangun di atas tanah dengan memanfaatkan pohon sebagai tambatannya. Salah satu rumah bahkan dibangun pada ketinggian 27 meter di atas tanah. Karena lokasi rumahnya berada di ketinggian, maka rumah-rumah yang ada di Finca Bellavista tidak dapat diakses dengan cara biasa. Untuk memasuki rumah Finca Bellavista, orang-orang harus menaiki rangkaian tali dan jembatan. Walau terkesan merepotkan, upaya tersebut dirasa sepadan. Begitu seseorang berada di dalam rumah, pemandangan alam liar dan pepohonan di ketinggian sudah siap menyambut.
NJUGUNA
Di Kenya, terdapat seorang pria tua bernama Njuguna yang hidup di dalam pohon. Njuguna mengaku terpaksa tinggal di pohon karena ia tidak memiliki siapa-siapa untuk membantunya. Karena ia tidak dapag lagi mengingat identitas dirinya dengan tepat, Njuguna juga tidak bisa meminta santunan kepada pemerintah.
Karena Njuguna memerlukan tempat untuk berteduh dan beristirahat, Njuguna pun menjadikan sebuah pohon kayu putih sebagai tempat tinggal. Selama 2 tahun, ia memanfaatkan pohon tersebut layaknya rumahnya sendiri. Hal yang lebih membuat takjub, yaitu wilayah di sekitar pohon tempat Njuguna tinggal dipenuhi oleh ular beracun. Namun ajaibnya, Njuguna bisa tetap tinggal di sana tanpa pernah tergigit.
Suatu hari, ada seorang anak sekolah yang berpapasan dengan Njuguna. Begitu melihat kondisi Njuguna, bocah tersebut kembali ke desanya dan menceritakan temuannya kepada warga setempat. Karena merasa iba, penduduk desa beramai-ramai memberikan makanan, selimut, dan barang-barang kebutuhan lainnya.
Saat kabar mengenai Njuguna tersebar, stasiun televisi NTV kemudian membuat liputan mengenai kehidupan Njuguna. Sejak itu, semakin banyak penduduk Kenya yang mengetahui Njuguna beserta kehidupannya yang serba terbatas. Dua minggu setelah Njuguna muncul di televisi, pemerintah daerah setempat akhirnya turun tangan. Mereka memindahkan Njuguna ke rumah baru yang kondisinya lebih layak untuk ditinggali. Njuguna kemudian berujar, bahwa rumah ini mungkin akan menjadi rumah tempat ia kelak bakal meninggal mengingat ia sudah berusia hampir satu abad.
PERINTIS AMERIKA SERIKAT
Sebelum menjadi negara besar seperti sekarang, wilayah Amerika Serikat pada awalnya dihuni oleh suku pribumi Indian dan imigran asal Eropa yang ingin memulai kehidupan baru. Saat Amerika Serikat mendeklarasikan dirinya sebagai negara merdeka sejak abad ke-18, jumlah imigran asal Eropa yang menetap di Amerika Serikat semakin lama semakin banyak. Karena banyak dari mereka yang datang dengan modal seadanya, mereka pun terpaksa hidup berpindah-pindah dengan memakai kereta kuda. Saat para pemukim tersebut bermigrasi ke sisi barat Benua Amerika pada akhir abad ke-19, mereka berpapasan dengan pohon-pohon raksasa yang bagian atasnya sudah ditebang oleh perusahaan kayu di masa lampau. Yang tersisa hanya bagian bawah atau tunggul pohon yang ketinggiannya bisa mencapai 3 meter.
Karena lahan yang menjadi lokasi tunggul pohon tersebut dulunya adalah hutan yang subur, mereka pun menduga kalau lahan ini bisa digunakan sebagai lahan pertanian. Lalu mereka beramai-ramai menjadikan bekas lahan penebangan ini sebagai tempat tinggal baru mereka. Setelah membuat rongga di bagian dalam tunggul pohon, bagian dalam tunggul pohon tersebut kini menjadi rumah baru mereka. Selain untuk dijadikan tempat tinggal, sejumlah tunggul pohon juga dimanfaatkan sebagai gudang dan tempat memelihara hewan ternak.
RUMAH KAYU JIM ALLEN
Jim Allen adalah seorang pria asal California, Amerika Serikat, yang sehari-harinya bekerja sebagai penebang kayu. Suatu hari pada tahun 1930-an, ia terjebak di tengah badai saat sedang berada di tengah-tengah hutan. Agar dapat selamat dari amukan badai, Jim pun berteduh di batang pohon kayu merah. Pohon kayu merah adalah salah satu pohon terbesar sekaligus tertinggi di dunia, dan pohon ini tingginya dapat mencapai 70 meter lebih.
Saat badai sudah reda, Jim merasa begitu berhutang budi atas kayu merah yang melindunginya. Maka, ia pun membeli sebatang kayu merah raksasa dari perusahaan penebangan kayu setempat. Ia berencana menggunakan batang kayu tersebut sebagai rumah barunya. Batang pohon yang dibelinya memiliki diameter 4 meter dan panjang 81 meter. Dengan dibantu oleh satu orang rekannya, Jim kemudian membuat rongga di dalam rumah tersebut agar batang kayunya dapat dihuni. Saat pekerjaannya sudah selesai, ia tinggal di dalam batang kayu tersebut selama 7 tahun. Sekarang, rumah kayu ini menjadi obyek wisata yang bisa dimasuki oleh siapapun jika sedang berada di kota Garbeville, California.
SUKU KOROWAI
Korowai adalah suku asli Papua yang hidup terisolasi dari dunia luar sebelum didatangi oleh misionaris pada tahun 1970-an. Wlaau hidup di lokasi yang terpencil, suku ini memiliki pola hidup yang akan membuat orang merasa tertegun. Suku Korowai memiliki kebiasaan membangun rumah di atas pepohonan yang tinggi. Jarak antara rumah mereka dengan permukaan tanah dapat mencapai 35 meter, namun umumnya rumah-rumah suku Korowai dibangun 10 meter di atas permukaan tanah.
Yang lebih menakjubkannya lagi, masing-masing rumah dibangun sedemikian rupa supaya cukup kuat untuk menampung banyak orang sekaligus. Dengan begitu, masing-masing rumah bisa dihuni oleh seluruh anggota keluarga. Untuk naik dan turun ke atas rumah, rumah-rumah suku Korowai dilengkapi dengan tangga.
Ancaman terbesar bagi rumah suku Korowai adalah kebakaran yang muncul secara tiba-tiba di dalam rumah. Untuk mengatasinya, rumah-rumah suku Korowai pun dilengkapi dengan pintu lantai darurat. Saat kebakaran terjadi, penghuni rumah dapag keluar dengan cepat memakai pintu lantai tersebut dan tiba di bawah dengan selamat. Suku Korowai mungkin membangun rumahnya di tempat yang tinggi agar aman dari suku saingan, terhindar dari hewan buas, aman dari ancaman banjir.