Ternyata, dunia memiliki sejarah panjang untuk menentukan tahun baru yang ditetapkan pada tanggal 1 Januari. Dikutip dari britannica, perayaan tahun baru pernah dilakukan pada tanggal 25 Maret dan 25 Desember. Namun Raja Romawi merevisi tahun baru dari bulan Maret menjadi bulan Januari.

Namun, saat peradaban kuno tersebut tidak semua orang merayakan tahun baru pada tanggal 1 Januari. Ada yang Maret, ada pula yang merayakan pada bulan Juli. Selain waktu perayaan yang berbeda, ternyata tradisi yang dilakukan juga berbeda. Tidak hanya merayakan dengan suka cita, ada juga yang merayakan dengan tangisan raja.

Berikut perayaan tahun baru di peradaban kuno.

AKITU

Akitu adalah festival yang dirayakan oleh orang Babilonia saat masa Mesopotamia Kuno, perayaan ini dirayakan pada bulan baru pertama setelah titik balik musim semi di akhir bulan Maret. Fenomena ini menandakan tahun baru serta lambang bahwa alam melakukan kelahiran kembali. Selain itu, Akitu juga memperingati kemenangan dewa langit Babilonia bernama Dewa Marduk atas Dewi Laut bernama Tiamat.

Perayaan ini dirayakan selama 11 hari dan dilakukan setiap hari. Hal yang dilakukan penduduk yaitu mengarak patung dewa di sepanjang jalan kota sebagai simbolis kegiatan pembersihan.

Uniknya ada ritual tidak biasa yang dilakukan, yaitu ritual penghinaan terhadap raja. Saat ritual tersebut, raja dihadapkan kepada patung Dewa Marduk lalu raja dilucuti, ditampar hingga ditarik telinganya sampai menangis. Air mata yang jatuh tersebut sebagai penanda, bahwa Dewa Marduk puas sehingga kekuasaan raja diperpanjang.

IMLEK

Imlek juga termasuk dalam tradisi tahun baru kuno yang sudah ada sejak lebih dari 3.000 tahun yang lalu. Perayaan ini dilakukan saat Dinasti Shang sebagai penanda awal baru musim tanam saat musim semi. Tidak ada tanggal pasti, namun bisa diperkirakan bahwa tahun baru imlek jatuh antara tanggal 21 Januari hingga 20 Februari.

Selain memperingati musim tanam, adanya mitos dan legenda makhluk haus darah bernama ‘Nian’ yang mencari mangsa saat tahun baru. Untuk mengusir makhluk tersebut, penduduk desa membakar bambu, membuat suara-suara keras hingga menghias rumah berwarna merah agar mahkluk tersebut pergi.

Tradisi tersebut berjalan hingga sekarang bahkan terdapat tradisi lain seperti menyapu rumah ataupun membayar hutang sebagai simbolis untuk memulai tahun yang baru. Selain itu, saat Imlek juga diadakan kumpul-kumpul bersama saudara dan kerabat.

NOWRUZ

Perayaan atau festival Nowruz dirayakan oleh orang-orang yang berada di Iran, Timur Tengah dan Asia Tengah. Nowruz berarti hari baru atau disebut juga dengan Tahun Baru Persia. Sejarawan percaya, bahwa festival ini sudah ada sejak abad ke-6 SM saat masa pemerintahan Kekaisaran Achaemenid.

Perayaan ini juga sebagai pertanda hari pertama musim semi, sehingga biasanya dirayakan pada 21 Maret. Kesadaran untuk hidup selaras dengan alam, penghormatan kepada sumber kehidupan alami menjadi latar belakang perayaan tahun baru ini.

Tradisi yang biasanya dilakukan saat perayaan tahun baru adalah pesta, bertukar hadiah, memercikkan air, mewarnai telur serta menyalakan api unggun. Selain itu, ada ritual unik yaitu pemilihan Penguasa Nowruzian. Dimana rakyat jelata dipilih untuk berpura-pura menjadi raja hingga festival selesai.

Walaupun sudah berpuluh-puluh ribu tahun lamanya, penduduk daerah tersebut sebagian masih mempertahankan tradisi kuno tersebut. Tidak hanya sekedar perayaan, tradisi tahun baru juga diisi dengan pengharapan untuk memulai masa depan.

ROMAWI KUNO JANUS

Awalnya bangsa Romawi juga merayakan tahun baru pada titik balik musim semi seperti bangsa Babilonia. Namun selama beberapa abad, kalender tidak sinkron dengan matahari. Oleh karena itu, pada tahun 46 SM Julius Caesar berkonsultasi dengan astronom dan matematikawan hebat pada masanya. Akhirnya, ditetapkanlah tanggal 1 Januari sebagai tahun baru.

Tidak hanya itu, perayaan ini juga dilakukan sebagai penghormatan pada dewa Janus yang merupakan dewa perubahan dan permulaan. Sosok dewa Janus digambarkan memiliki dua muka, sehingga secara simbolis bisa melihat masa lalu dan masa depan.

Tradisi yang dilakukan adalah memberikan persembahan kepada dewa Janus dengan harapan diberi rejeki pada tahun yang baru. Adapula kegiatan saling bertukar ucapan selamat dan hadiah berupa buah ara dan madu. Selain itu, saat tahun baru Bangsa Romawi juga memilih kerja karena bermalas-malasan dipandang sebagai pertanda buruk di tahun yang baru.

WEPET RENPET

Peradaban Mesir Kuno, merayakan tahun baru bertepatan dengan banjir tahunan yang terjadi di Sungai Nil. Perayaan tahun baru tersebut dikenal dengan Wepet Renpet atau berarti pembukaan tahun. Selain itu, perayaan ini juga merayakan kematian serta kelahiran kembali Dewa Osiris.

Menurut Censorinus, seorang penulis Romawi menyatakan bahwa tahun baru Mesir Kuno diprediksi saat bintang Sirius menjadi bintang paling terang saat malam hari. Penduduk Mesir Kuno merayakannya pada pertengahan Juli.

Untuk merayakan perayaan tahun baru yang berlangsung berhari-hari ini, terdapat ritual berupa nyanyian serta tarian. Ada juga pembacaan puisi ‘Ratapan Isis dan Nephthys’, selain itu juga diadakan pesta alkohol.

YUNANI KUNO

Pada masa peradaban Yunani kuno, festival-festival digelar untuk menghormati para dewa. Oleh sebab itu, pada momen pergantian tahun, masyarakat Yunani kuno menggelar festival sebagai bentuk penghormatan kepada para dewa.

Tidak hanya pada perayaan tahun baru, masyarakat Yunani kuno juga menggelar festival ketika musim berganti. Biasanya, festival diisi dengan berbagai macam acara, seperti ritual keagamaan, kompetisi, pesta, dan pertunjukan. Bagi masyarakat Yunani kuno, festival memiliki makna yang mendalam tentang kebersamaan, komitmen, dan persatuan.