Sekolah menjadi tempat bagi seseorang untuk menempuh pendidikan, di mana sekolah haruslah dirancang sedemikian rupa agar proses ajar mengajar berjalan dengan baik. Tidak jarang, ada sekolah yang memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing.

Keunikan dan ciri khas suatu sekolah biasanya didasari untuk mengatasi solusi dari kondisi tertentu di suatu tempat. Misalnya, kondisi suatu tempat yang penduduknya memiliki tingkat kesadaran bersekolahnya rendah, maka dibuatlah sekolah dengan konsep dan kurikulum yang lebih menarik seperti sekolah alam.

Namun, tidak jarang pula sekolah yang unik ini berdiri karena memang keadaan perekonomian suatu tempat yang rendah, sehingga terciptanya sekolah dengan keadaan yang tidak sama seperti pada sekolah pada umumnya. Hal tersebut dilakukan dengan harapan semua anak memiliki kemampuan dan punya kesempatan merasakan pendidikan.

Berikut sekolah paling unik yang ada di dunia, mulai dari lingkungan yang tidak biasa, inovatif, hingga kurikulum-kurikulum yang out of the box.

SEKOLAH GUA DONG ZHONG, TIONGKOK

Sekolah yang dibangun oleh alam ini terletak di sebuah gua besar Dong Zhong di Provinsi Guizhou, yang merupakan provinsi terkumuh di Tiongkok. Gua Dong Zhong menjadi tempat hidup dari penduduk asli pegunungan Miao. Menjadi daerah termiskin di Tiongkok, membuat anak-anak di gua tersebut kehilangan akses pendidikan.

Pada tahun 1984, atas dasar inisiatif masyarakat Miao berdirilah sebuah sekolah menengah. Karena tidak ada uang untuk membangun sebuah gedung, penduduk setempat memulai sebuah sekolah di sebuah gua pada tahun 1984 dengan delapan guru dan 186 siswa.

Satu-satunya sekolah yang ada di dalam gua, sekolah itu terdiri dari beberapa ruang kelas kayu dan taman bermain. Karena letaknya di dalam gua, tempat ini sangat cocok untuk dijadikan tempat untuk berlatih paduan suara. Keberadaan hewan-hewan dan tumbuhan dapat memberikan kesempatan siswa untuk belajar biologi, dan kontur gua juga bisa dimanfaatkan siswa untuk belajar geografi. Sayangnya, pada tahun 2011 sekolah ini akhirnya ditutup oleh pemerintahan Tiongkok. Namun, mereka memindahkan murid-murid ke sekolah di tempat yang lebih jauh tentunya.

SEKOLAH BUNKER, ABO, AMERIKA SERIKAT

Terletak di New Mexico, Amerika Serikat, sekolah ini merupakan sekolah bawah tanah pertama di Amerika Serikat dan dibangun selama ketegangan Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Rusia. Ide di balik sekolah tersebut adalah untuk membangun sekolah tempat pendidikan terus berjalan jika terjadi ledakan bom terjadi di tempat itu.

Sayangnya, pada tahun 1995 sekolah ini secara resmi ditutup sebagai akibat dari peningkatan biaya perawatan, peralatan mekanis yang menua, dan kesulitan yang terkait dengan pelepasan insulasi asbes dari struktur bawah tanah tanpa jendela. Sebuah sekolah baru, SD Yeso, dibangun di sebelahnya dan kini sekolah Abo diubah menjadi fasilitas penyimpanan.

SEKOLAH MENGAPUNG MAKOKO, LAGOS, NIGERIA

Lagos yang terletak di pesisir Nigeria sering kali tergenang banjir, membuat anak-anak hanya memiliki satu akses sekolah. Itu pun terbilang tidak memadai, karena berdiri di atas tanah reklamasi yang tidak jarang dihantui bencana banjir.

Atas dasar itu, pada tahun 2013 seorang arsitektur asal Nigeria bernama Kunlé Adeyemi dari NLÉ, menginisiasi pembuatan sekolah apung dengan mengadopsi gaya hidup akuatik penduduk setempat. Sekolah yang dirancang dengan bantuan banyak lembaga ini digadang-gadang bisa diisi lebih dari 100 orang murid beserta guru-guru.

Mengapung di atas 250 tong plastik di Laguna Lagos, bangunan berbentuk A-frame dilengkapi dengan ruang terbuka, toilet, serta beberapa kelas di lantai 2. Sekolah ini juga dilengkapi dengan fitur yang cukup memadai seperti penerapan sel tenaga surya di atap, sistem resapan air hujan dan toilet pengomposan.

Sayangnya, seminggu setelah mendapatkan penghargaan Silver Lion di Venice Biennale 2016, tepat pada tanggal  7 Juni 2016 sekolah apung tersebut runtuh akibat badai dahsyat yang menerjang wilayah Lagos. Untungnya, tidak ada korban jiwa pada kejadian mengerikan itu.

SEKOLAH BEBAS, BROOKLYN

Sekolah bebas di Brooklyn Amerika Serikat ini adalah sekolah yang tidak menetapkan kurikulum secara khusus untuk para siswanya. Kita dengan sesuka hati dapat belajar apapun yang kita inginkan. Tidak ada batasan, tidak ada ujian, pekerjaan rumah, nilai, dan tidak ada kurikulum.

Sekolah ini memang dirancang agar siswanya dapat belajar secara mandiri dan menentukan pelajaran apa yang ia minati. Bahkan, siswa juga bebas keluar dari kelas jika mereka ingin. Berjalan-jalan santai di koridor, menonton TV, maupun tidur siang tidak ada yang akan menegur.

Kebanyakan siswa akan berdiskusi bersama rekannya sebelum mereka melakukan ataupun memilih suatu kegiatan, dan ini adalah proses belajar. Saat siswa menjalankan kelas, guru hanya bekerja sebagai moderator. Seorang siswa dapat mengadakan pertemuan dan mendiskusikan ide-idenya dengan seluruh sekolah. Menurut kepala sekolah, sekolah mengharapkan setiap siswa dapat menemukan jalannya sendiri.

SEKOLAH DUNIA NYATA, AMERIKA SERIKAT

Kurikulum ini sebenarnya sudah banyak diadopsi di beberapa sekolah di Amerika Serikat. Kurikulum ini mengedepankan pembelajaran untuk bekal bekerja di dunia nyata kelak. Kurikulum ini menawarkan siswa memilih pembelajaran belajar sesuai dengan profesi yang mereka cita-citakan. Di setiap pembelajaran nantinya, akan ada seorang mentor yang berkompeten untuk membimbing siswa tersebut.

SEKOLAH MASA DEPAN, PHILADELPHIA BARAT

“The school without books”  cocok untuk sekolah satu ini. Sekolah yang didirikan pada tahun 2006 ini, merupakan sekolah pertama yang dirancang untuk menggambarkan bagaimana keadaan sekolah di masa depan. Siswanya tidak harus membawa buku dan pulpen ke sekolah, karena semua proses pembelajaran siswa dilakukan di komputer yang tersedia.

Alih-alih menggunakan papan tulis dan penghapus, di sekolah ini sudah tersedia papan layar pintar terkomputerisasi. Loker-loker pun dapat diakses menggunakan kartu identitas, dan segala bentuk perangkat digital yang bisa digunakan di sekolah ini. Sempat mengalami kesulitan di awal, kini sekolah itu sukses mengembangkan metode belajar digitalisasi.